Perbanyaklah Shalawat Pada Hari Jum'at !!


Hari jum’at adalah sayyidul ayyaam (pemimpin hari) dan hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pada hari yang mulia dan agung ini kita diperintahkan untuk memperbanyak shalawat untuk manusia yang paling mulia dan agung, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ
"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum'at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku…." (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)
Memperbanyak shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Jum'at yang menjadi sayyidul ayyam menunjukkan kemuliaan pribadi beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai sayyidul anam (pemimpin manusia).
Shalawat termasuk ibadah yang paling afdhal. Dan dilaksanakan pada hari Jum'at jauh lebih utama daripada dilaksanakan pada hari selainnya, karena hari Jum'at memiliki keistimewaan dibandingkan hari yang lain. Dan melaksakan amal yang afdhal pada waktu yang afdhal adalah lebih utama dan lebih bagus. (lihat 'Aunul Ma'bud: 2/15)
Setiap kebaikan yang diperoleh seorang hamba dalam urusan diennya adalah berkat jasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau telah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mendakwahkan dan menyebarkan Islam. Berkat kerja keras beliau dalam dakwah, kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian dan tantangannya, Islam bisa sampai kepada kita. Sebagai bentuk syukur dan terima kasih kita kepada beliau, Allah perintahkan bershalawat untuk beliau shallallahu 'alaihi wasallam.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Kapan mulai membaca shalawat?
Membaca shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Jum'at bisa dimulai sejak malam harinya. Hal ini didasarkan pada hadits Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;
أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَىَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
"Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum'at dan malam Jum'at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kalim niscaya Allah bershalwat kepada sepuluh kali." (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Kubranya dan dinytakan oleh Syaikh al Albani dalam Ash Shahihah, sanadnya shalih).
Dari Aus bin Aus radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Di antara hari terbaik kalian adalah hari Jum'at,  . . . maka perbanyaklah shalawat atasku pada hari itu, karena shalawatmu akan disampaikan padaku."
Para shahabat berkata: "Ya Rasulallah, bagaimana shalawat kami atasmu akan disampaikan padamu sedangkan kelak engkau telah lebur dengan tanah?"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi." (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dengan sanad yang shahih)
Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ
"Tak seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku menjawab salamnya." (HR. Abu Dawud, dishahihkan an Nawawi dalam Ar Riyadl dan dihasankan oleh al Albani dalam Shahih al Jaami', no. 5679)
Dari Abdullah bin Amr bin al Ash radhiyallahu anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat baginya dengan itu sepuluh kali." (HR Muslim)
Bentuk ucapan shalawat :
Di antara bentuk shalawat terbaik adalah yang terdapat dalam Shahihain, dari Ka'b bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami, lalu kami berkata: "Ya Rasulallah, kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bershalawat atasmu?"
Beliau menjawab : "Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allaahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad kamaa shallayta 'alaa aali Ibraahiim. Innaka hamiidum majiid. Allaahumma baarik 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad kamaa baarakta 'alaa aali Ibraahiim. Innaka hamiidum majiid.
"Ya Allah sampaikanlah shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah sampaikan shalawat atas Nabi Ibrahim dan keluarga-Nya. Sesungguhnya Engkau Dzat Mahaterpuji lagi Mahaagung. Ya Allah, berikah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah berkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Dzat Mahaterpuji lagi Mahaagung." (HR Bukhari dan Muslim)
Di antara bentuk shalawat dan salam yang paling pendek atau ringkas adalah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
Imam an Nawawi rahimahullah berkata: "apabila salah seorang kalian bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, hendaklah ia menggabungkan antara shalawat dan salam. Tidak boleh ia hanya mengucapkan صَلَّى اللهُ عَلَيهِ saja atau عَلَيْهِ السَّلاَمُ saja." (Shahih al Adzkaar: I/325)
Ibnu Shalah rahimahullah berkata, "sebaiknya penulis hadits dan para penuntut ilmu menulis shalawat serta salam atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (dengan lengkap), dan ketika menyebutnya jangan bosan mengulang-ulangnya, karena yang demikian itu sangat besar manfaatnya yang akan segera dirasakan oleh penuntut ilmu dan (hadits) dan penulisnya. Barangsiapa yang lalai, maka ia tercegah mendapat pahala yang besar, hendaklah ia tidak memotongnya/tidak menyingkat ketika menulisnya." (Ilumul Hadits, karya Ibnu Shalah, hal. 124)
Seseorang yang ingin bershalawat, tidak boleh membuat shalawat-shalawat yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Shalawat merupakan ibadah, dan ibadah dasarnya adalah ittiba' (mengikuti contoh Nabi). Dan di antara bentuk shalawat yang tidak dicohtohkan adalah Shalawat Badar, Shalawat Nariyah, Shalawat Fatih, dan lainnya.

Nabi Nuh AS, Bapak Kedua Manusia


Oleh: Anas Mas’udi El Malawi

Pendahuluan
“Maka aku katakan pada mereka : Mohon ampunlah kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yg deras kepadamu, dan membanyakkan harta serta anak-anakmu, dan (juga) menciptakan untukmu kebun-kebun yg di dalamnya terdapat sungai-sungai (yg mengalir)” (QS. 71 : 10-12).
Dunia adalah rumah ujian bagi umat manusia. Dunia adalah sawah dan ladang aherat. Jika kita menanam kebaikan di dalamnya, kehidupan kita di aherat akan dipenuhi dengan kesenangan dan dihiasi dengan kebahagiaan. Namun jika kita menanam kebathilan dan kemunkaran, akan kita temui kehidupan di aherat sangat panas menyakitkan dan melelahkan, hingga kita kelak berteriak-teriak agar dikembalikan ke dunia dan berjanji akan berbakti pada Tuhan.Namun saat itu keluh kesah sudah tak berarti sama sekali. Hanya amal yg akan menemani kita dan menerangi kehidupan aherat kita.
Untuk itu, manusia tidak mungkin mampu menghindar dari zig-zag kehidupan dunia yg dipermainkan zaman, jika ia tidak membaca sejarah kaum terdahulu. Sebab manusia adalah anak zaman dan anak lingkungannya. Dengan menelaah sejarah kaum terdahulu dia bisa meniru bagaimana bisa menyelamatkan diri dari panasnya kemelut kehidupan dunia dan terlebih utama bagaimana cara menyelamatkan diri dari keganasan hidup di aherat kelak.Your browser may not support display of this image.
Dalam kisah nabi Nuh as kita bisa mempelajari banyak hal yg terjadi dalam kehidupan. Kita akan tahu bagaimana kita bergaul dengan sesama? Bagaimana kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta alam semesta? Bagaimana cara kita menghadapi problematika kehidupan yg semakin lama semakin memanas dengan api kemungkaran yg merajalela. Di sini kita bisa merenung bersama dan mengambil hikmah dari sejarah nabi Nuh as.
Mengenal Nabi Nuh AS.
Nabi Nuh adalah bapak manusia kedua setelah Adam as, bahkan bisa dikatakan ia adalah bepak umat muslim kedua. Ia disebut bapak manusia dan umat muslim kedua karena seluruh penduduk bumi hanyut ditelan banjir topan saat itu kecuali 80 orang yg selamt bersama nabi Nuh dalam kapalnya. Bagitu juga ke 80 orang tadi keimanannya semakin kuat dan yakin setelah menyaksikan langsung kekuasaan Allah dan kebenaran ajaran nabi Nuh as. Mereka semakin patuh dan tunduk pada perintah nabi Nuh.
Nabi Nuh adalah keturunan nabi Adam as yg ke 10, ialah Nuh Ibn Lamik Ibn Mettiusyaleh Ibn Akhnukh (Idris; dlm Islam) Ibn Yarid Ibn Mahlal’il Ibn Qeinan Ibn Anousy Ibn Syits Ibn Adam. Dalam sejarah dikatakan bahwa setelah Nuh lahir, bapaknya (Lamik) hidup selama 595 th, kemudian meninggal pada usia 780 th. Nabi Nus as menikah dengan perempuan dari kerabatnya, yaitu Amdzarah Binti Barakeil Ibn Mihweil Ibn Akhnukh (Idris) Ibn Yarid Ibn Mahlal’il Ibn Qeinan Ibn Anousy Ibn Syits Ibn Adam saat berusia 500 th.
Nabi Nuh dikaruniai Allah dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.
Kaum Nabi Nuh
Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa “fatrah” (masa kekosongan) di antara dua rasul. Di mana biasanya manusia secara berangsur-angsur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka lantas mereka kembali pada syirik meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.
Demikianlah kaum nabi Nuh tidak luput dari perihal tersebut, sehingga ketika nabi Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala dan patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri sebagai tuhan-tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan kemalangan.
Berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan gaib di atas manusia itu diberi beberapa nama kusus menurut kehendak dan selera kebodohan mereka. Kadang-kadang mereka menamakan berhala tersebut dengan nama ” Wadd ” dan ” Suwa’ “, kadangkala ” Yaghuts ” dan bila sudah bosan digantinya dengan nama ” Ya’uq ” dan ” Nasr “. (lihat QS. 71: 23)
Dakwah Nabi Nuh AS
Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis dengan bijak dan penuh kesabaran. Ia mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala untuk kembali kepada tauhid menyembah Allah SWT Tuhan sekalian alam. Kemudian mengajak mereka untuk melakukan ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.
Nabi Nuh berupaya menarik perhatian kaumnya dengan mengajak mereka untuk merenungi alam semesta yang diciptakan oleh Allah SWT, melihat langit dengan matahari, bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang ada di atas dan di bawahnya, beraneka tumbuh-tumbuhan dan air mengalir yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pergantian malam menjadi siang dan sebaliknya. Di mana semua itu bisa dijadikan bukti dan tanda nyata akan ke-esa-an Allah SWT yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.
Di samping itu Nabi Nuh juga memotivasi mereka dengan mengatakan bahwa akan ada ganjaran yang akan diterima oleh manusia bagi setiap amalnya di dunia, yakni surga bagi yg berama baik dan neraka bagi yg melanggar perintah agama, baik melakukan kemungkaran maupun kemaksiatan.
Mereka bertahun-tahun menyembah berhala dan mengkultuskannya. Mereka sangat yakin bahwa berhala-berhala tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dan menolak bahaya serta segala problematika kehidupan mereka adukan pada berhala-berhala tadi. Mereka tidak hentinya menyebut nama-nama berhala tersebut (Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr). Di mana nama-nama tadi dulunya adalah nama-nama orang salih yg hidup sebelum mereka dan mereka meyakini ornga-orang tadi bisa memberi berkah dalam hidupnya. Hingga sampai mereka mengkultuskan nama-nama itu yg ahirnya dijadikan sebutan bagi nama-nama dewa/berhala mereka.
Nabi Nuh telah berusaha sekuat tenaganya berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan kesabaran dalam setiap kesempatan, siang maupun malam dengan cara berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka. Namun ternyata hanya sedikit sekali dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya. Menurut beberapa riwayat jumlah mereka tidak lebih dari seratus orang. Ada beberapa riwayat dari sejarawan muslim yg mengatakan bahwa jumlah mereka ada 80 orang yg terdiri dari nabi Nuh, ketiga anaknya (Sam, Ham dan Yafits) beserta isteri-isteri mereka.
Selain mereka ada 73 orang dari keturunan nabi Sits. Keturunan Qabil dan Habil lenyap tenggelam oleh banjir topan. Mayoritas pengikut nabi Nuh adalah orang-orang miskin yg berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang kaya yg berkedudukan tinggi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh bahkan mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala mereka, sampai mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan menggagalkan usaha dakwah Nabi Nuh.
Dialog Nabi Nuh Dengan Kaumnya
Kaum nabi Nuh berkata : “Bukankah engkau hanya seorang dari kami dan tidak berbeda dari kami sebagaimana manusia biasa. Jika betul Allah akan mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, niscaya Allah akan mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya, bukan manusia biasa seperti engkau yg hanya dapat diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani dan orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka seperti sampah masyarakat. Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak. Mereka mengikutimu secara buta dan tuli tanpa memikirkan dan menimbang masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Coba jika agama yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau ajukan kepada kami itu betul-betul benar, niscaya kamilah yg mengikutimu terlebih dahulu, bukannya orang-orang yang mengemis seperti pengikut-pengikutmu itu. Kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudah kami menerima ajakanmu dan dakwahmu. Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soa-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup. Kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui daripada kamu tentang semua hal. Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahwa engkau adalah pendusta belaka”.
Nabi Nuh menjawab ejekan kaumnya tadi seraya berkata : “Adakah engkau mengira bahwa aku dapat memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakanku dan tetap menutup mata dan telinga terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku serta tetap mempertahankan pendirianmu yang sesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki. Aku hanya seorang manusia yang mendapat amanah dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mau kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepadaku, maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan ganjaran-Nya terhadap kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanah-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan siksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki. Dia pula yang berkuasa menurunkan siksa dan azab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.
Mereka menimpali ucapan nabi Nuh dengan mengemukakan syarat berkata : “Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan semangat kepada kamu dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani, buruh dan hamba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pengaulanmu karena kami tidak dapat bergaul dengan mereka, duduk berdampingan dengan mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dapat menerima satu agama yang menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin”.
Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya dan berkata : “Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tanpa pengecualian, yang pandai maupun yang bodoh, yang kaya maupun miskin, majikan ataupun buruh ,di antara penguasa dan rakyat biasa semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama terhadap agama dan hukum Allah. Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dapat kuharapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan dariku orang-orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dapat mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahwa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran yang sehat. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat”.
Oleh karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka: “Wahai Nabi Nuh! Kita telah banyak bermujadalah (adu argument) dan berdebat. Cukup sudah kami berdialog dan mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan adat-istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu pada kami. Datangkanlah apa yang benar-benar bisa membuktikan bahwa engkau adalah orang yang menepati janji dan kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu.”
Senjata Pamungkas Nabi Nuh AS
Setelah berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh (950) tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah Yang Maha Kuasa, memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mengangkat derajat manusia yang tertindas dan lemah ke tingkat yang sesuai dengan fitrah dan kodratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan congkak yang melekat pada para pembesar kaumnya dan medidik agar mereka hidup saling mengasihi dan menyayangi, tolong-menolong di antara sesama manusia. Namun dalam waktu yang cukup lama itu, nabi Nuh tidak berhasil menyedarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya untuk beriman, bertauhid dan beribadah kepada Allah kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus orang.
Walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-upaya dan usahanya yg sangat maksimal dengan penuh kesabaran dan kesulitan dalam menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan serta makian kaumnya, nabi Nuh tetap berusaha untuk tabah dan bertahan berharap akan datang masanya di mana kaumnya akan sadar dan datang mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Namun harapan itu hanyalah sebatas harapan, hingga harapan itu makin hari makin berkurang. Sinar iman dan takwa tampak tidak akan bisa menebus ke tembok hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Sebagaimana termaktub dalam al Qur\an : “Sesungguhnya tidak akan ada orang dari kaum itu mengikutimu dan beriman padamu kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka janganlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka perbuatkan”.
Dengan adanya penegasan firman Allah tersebut, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ahirnya nabi Nuh as mengeluarkan ajian pamungkasnya yg berupa doa mustajab memohon kepada Allah agar menurunkan azab-Nya pada kaumnya yang berkepala batu seraya berseru :”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu. Jika Engkau biarkan mereka tinggal, mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt.mereka”. Doa Nabi Nuh pun dikalbulkan oleh Allah dan tidak perlu lagi menghiraukan kaumnya, karena mereka akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam. Kemudian nabi Nuh mendapat wahyu untuk membuat kapal sebelum azab diturunkan sebagaimana Allah memberi wahyu pada nabi Luth untuk keluar meninggalkan kampung halamannya sebelum fajar datang agar selamat dari azab tersebut.
Nabi Nuh AS Membuat Kapal
Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut. Kemudian dengan mengambil tempat di luar yg agak jauh dari kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembuatan kapal yang diperintahkan itu. Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan untuk menyelesaikan kapalnya, tetap saja ia tidak luput dari ejekan dan cemoohan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja pembuatan kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan: “Wahai Nuh! Sejak kapan engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal? Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu? Kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal? Dan kapal yang engkau buat itu berada di tempat yang jauh dari air. Apakah kamu berharap kapalmu itu akan ditarik oleh kerbau ataukah mengharap angin yang akan menarik kapalmu ke laut?
Semua ejekan yang diterima oleh Nabi Nuh disikapi dengan dingin dan tersenyum seraya menjawab:”Baiklah! Tunggu saja saatnya nanti. Jika kamu sekarang mengejek dan mengolok-olok kami, maka akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini. Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah yg akan menimpa kamu”.
Banjir Topan Datang
Setelah selesai dari pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, nabi Nuh menerima wahyu dari Allah :”Siap-siaplah engkau dengan kapalmu! Jika tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda daripada-Ku, segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan berlayarlah dengan izin-Ku”.
Kemudian tercurahlah dari langit dan memancar dari bumi air yang sangat deras dan dahsyat yang dalam sekejap telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa, menggenangi daratan yang rendah maupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh nabi Nuh atas perintah Allah.
Dengan iringan “Bismillahi majreiha wa mursaha” belayarlah kapal nabi Nuh menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihat orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkraman maut yang sudah siap menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.
Putera Nabi Nuh AS, Kan’an Hanyut Ditelan Topan
Ketika nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama “Kan’aan” timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu.
Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang. Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya : “Wahai anakku! Datanglah kemari dan bergabunglah bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang merupakan hukuman Allah”.
Kan’aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang : “Biarkanlah aku! dan pergilah! Jauhilah aku! Aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu, Aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini”.
Nabi Nuh menjawab : “Percayalah bahwa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Siapapun tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperoleh rahmat dan ampunan-Nya”. Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kan’aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincir ke bawah lautan air mengikuti kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh sedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah : “Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan ia adalah bagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa”. Kamudian Allah berfirman : “Wahai Nuh! Sesungguhnya puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu. Hapuslah namanya dari daftar keluargamu. Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu dan mengikuti jalanmu serta beriman kepada-Ku yg dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya. Adapun orang-orang yang mengingkari risalahmu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya mengikuti tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh”.
Nabi Nuh segera sadar setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sadar bahwa ia tersesat pada saat ia memanggil puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia sangat menyesali kelalaian dan kealpaannya itu. Kemudian ia menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru : “Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat. Ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang tidak aku ketahui. Ya Tuhanku! Jika Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, niscaya aku menjadi orang yang rugi”.

Banjir Topan Reda

Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit ” Judie ” dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh :”Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu”.
Ibn Abbas meriwayatkan bahwa setelah nabi Nuh dan kaumnya yg beriman turun dari kapal pada 10 Muharram (‘Asyuro’), ia membangun rumah untuk masing-masing pengikutnya sejumlah 80 rumah. Kemudain perkumpulan tersebut dinamakan “Suq Tsamanin” (pasar 80). Semua keturuan Qabil binasa.
Nabi Nuh saat peristiwa topan berlangsung sampai surutnya berusia 600 tahun dan hidup setelahnya selama 350 tahun. Selama itu ia berdakwah hanya berhasil mengajak 80 orang saja yg kemudian berkembang biak. Semua manusia pasca banjir topan dalam keadaan beriman dan imannya semakin kuat dengan adanya peristiwa tersebut.
Ajaran Nabi Nuh AS
Pada masa nabi Nuh as syariat Allah masih sebatas akidah karena populasi penduduk dunia relatif sedikit. Adapun ajaran akidah yg ada pada saat itu adalah :
1. Peng-esa-an Allah.
2. Risalah Tuhan.
3. Hari Ahir.
4. Hari Kebangkitan.
5. Hari Perhitungan amal.
6. Adanya neraka dan kekalnya penghuni di dalamnya.
7. Adanya surga dan kekalnya penghuni di dalamnya.
8. Adanya dosa dan balasan.
9. Istighfar dan Taubat.
10. Adanya malaikat.
11. Adanya azab bagi pelaku maksiat.
Ayat-Ayat Tentang Kisah Nabi Nuh As
Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surat, di antaranya surat Nuh dari ayat 1 hingga 28, juga dalam surat “Hud” ayat 27 hingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka. Ayat-ayat tersebut antara lain :
1. QS. Aly Imran : 33.
2. QS. Al Nisa’ : 163.
3. QS. Al An\am : 83-84.
4. QS. Al A’raf : 59-64.
5. QS. Yunus : 71-73.
6. QS. Hud : 25-49.
7. QS. Al Furqan : 37.
8. QS. Al Anbiya’ : 76-77.
9. QS. Al Syu’ara : 105-122.
10. QS. Al Ankabut : 14-15.
11. QS. Al Shaffat : 71-82.
12. QS. Al Dzariyat : 46.
13. QS. Nuh : 1-28.
14. QS. AL Qomar : 9-16.
15. QS. Al Mukminun : 23-30.
16. QS. Ghafir : 5-6
Penutup
Demikian sejarah nabi Nuh yg dapat penulis uaraikan. Dari sana mungkin bisa kita petik beberapa hikmah bahawa hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan (iman) atau penamaan aqidah dan pendirian (keyakinan) adalah lebih erat dan lebih berkesan daripada hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran. Kan’aan, walaupun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya karena ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.
Hal tersebut dapat menguatkan pemahaman firman Allah dalam Al-Quran yang bermaksud :”Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara”, dan hadis Rasulullah s.a.w.yang artinya : “Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika ia menyintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri”, juga peribahasa yang berbunyi : “Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu”.
Semoga sejarah tersebut bisa menjadi renungan bagi setiap pembaca dan dapat menambah kesadaran akan beragama hingga termotivasi untuk mengamalkan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya. Penulis juga berharap majelis ta’lim ini kelak bisa menjadi seperti kpalnya nabi Nuh yg mampu menyelamatkan jamaah dari ganasnya gelombang kehidupan yg semakin membumbung tinggi, amiiin. Untuk mengahiri tulisan ini penulis ucapkan “Hadaanallahu wa Iyyakum Shirathahul Mustaqim, Shirathal Anbiya\ wal Mursaliin”, amiin.
Refrensi :
1. Al Qur’an al Karim (terjemah).
2. Qishash al Quran al Karim. Prof. Dr. Fadli Hasan Abbas. Dar al Furqan. Oman-Yordan.
3. Qishash al Quran al Karim. Muhammad Ahmad Jadd al Maula.
4. Majma’ al Bayan al Hadits, Qishash al Anbiya’ fi al Quran al Karim. Samih Athif Zen. Dar al kitab. Lebanon.
5. Qishash al Anbiya. Ibn Jarir al Thabary. Al Dar al Mishriyyah al Lubnaniyyah.
6. Al Irtibath al Zamani Bain al Anbiya wa al Rusul. Dr. HM, Washfi.
7. Beberapa situs Islam;
http://www.negerimusnah.com/,
http://www.ensiklopedia.com/
, dll.

Alquran Turun dalam Tujuh Huruf


Oleh: Ghulam Zaenul Abdullah
Imam Al Zarkassi dalam bukunya, Al Burhän fi ‘Ulüm al-Qur’än,mengingatkan bahwa al-Qirä’ah (bacaan) itu berbeda dengan al-Qur’än (yang dibaca). Keduanya merupakan dua fakta yang berlainan. Sebab, al-Qur’än adalah wahyu Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk menjadi keterangan dan mukjizat. Sedangkan qira’ah ialah perbedaan cara membaca lafaz-lafaz wahyu tersebut di dalam tulisan huruf-huruf yang menurut Jumhür cara itu adalah mutawätir.
A. Pendahuluan
Bangsa Arab mempunyai aneka ragam dialek (lahjah)yang timbul dari fitrah mereka. Setiap suku mempunyai format dialek yang tipikal dan berbeda dengan suku-suku lain. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Namun demikian, mereka telah menjadikan bahasa Quraish sebagai bahasa bersama (common language) dalam berkomunikasi, berniaga, mengunjungi ka’bah, dan melakukan bentuk-bentuk interaksi lainnya. Dari keyataan diatas, sebenarnya kita dapat memahami alasan al-Qur’a>n diturunkan dengan menggunakan bahasa Qurraish.[1]
Fenomena al-Qur’a>n sebagai mukjizat terbesar nabi Muhammad saw ternyata bagaikan magnet yang selalu menarik minat manusia untuk mengkaji dan meneliti kandungan makna dan kebenarannya. al-Qur’ặn yang diturunkan atas ‘tujuh huruf’(sab’at ah{ru>f) menjadi polemik pengertiannya di kalangan ulama’, polemik ini bermuara pada pengertian sab’ah dan ah{ruf itu sendiri.
Kalau ditelusuri, akar polemik ini bermula dari hadith Nabi Muhammad saw yang berbunyi :
عنِ ابن عبّاسٍ رضيَ الله عنهما أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلّم قال: (أقْرأني جبريلُ على حَرفٍ، فلم أزَل اسْتزيدهُ حتّى انتهى إِلى سبعة أحرفٍ(.
“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abba>s r.a, Rasulullah saw bersabda : ” Jibri<l membacakan al-Qur’a>n kepadaku dengan satu huruf kemudian aku mengulanginya (setelah itu) senantiasa aku meminta tambah sehingga menambahiku sampai dengan tujuh huruf “.[2]
B. Arti Turunnya al-Qur’a>n dalam Tujuh Huruf
al-Ah}ruf (الأحرف) adalah bentuk jamak dari h{arf(حرف) ini mempunyai makna yang banyak :
1. H{arf yang berarti ujungnya atau tepinya
H{urf / al-Ah{ruf yang berarti huruf istilah dalam ilmu nahwu.[3]
2. H{arf yang bermakna puncak seperti (حرف الجبل ) diartikan puncak gunung.[4]
3. H{arf diartikan sebagai salah satu huruf hijaiyyah.
Sedangkan yang dimaksud al-Qur’a>n diturunkan dengan tujuh huruf adalah sebagai kelonggaran dan kemudahan bagi pembaca, sehingga bisa memilih diantara bacaan-bacaan yang diinginkan, tapi bukan dimaksudkan bahwa semua kalimah yang ada dalam al-Qur’a>n bisa dibaca dengan tujuh macam bacaan, akan tetapi yang dimaksudkan tujuh bacaan yang berbeda itu pada beberapa tempat yang beebeda-beda yang bisa dibaca sampai tujuh bacaan.[5]
C. Dalil al-Qur’a>n Diturunkan dengan Tujuh Huruf
Ada beberapa dalil hadi>th yang menjelaskan bahwa al-Qur’a>n diturunkan dengan tujuh huruf. Antara lain :
  • حدّثَنا عبدُ اللهِ بنُ يوسُفَ أخبرَنا مالكٌ عنِ ابنِ شِهابٍ عن عُروةَ بنِ الزّبَيرِ عن عبدِ الرحمنِ بنِ عبدٍ القاريّ أنهُ قال: سمعتُ عمرَ بنَ الخَطّابِ رضيَ اللهُ عنهُ يقول: «سمعتُ هشامَ بنَ حَكيمِ بنِ حِزامٍ يَقرأُ سورةَ الفُرقانِ على غيرِ ما أقرَؤها، وكان رسولُ الله صلى الله عليه وسلّم أقرَأَنيها، وكِدْتُ أن أعجَلَ عليه، ثمّ أمهلتُهُ حتّى انصَرَفَ، ثمّ لبّبْتُهُ بردائِه فجئتُ بهِ رسولَ الله صلى الله عليه وسلّم فقلتُ: إني سمعتُ هذا يقرأُ على غيرِ ما أقرَأْتَنيها. فقال لي: أرسِلْهُ. ثمّ قال لهُ: اقرَأْ. فقرأَ. قال: هكذا أُنزِلَتْ. ثمّ قال لي: اقرَأْ. فقرأتُ. فقال: هكذا أُنزِلَتْ، إنّ القرانَ أُنزِلَ على سبعةِ أحرُفٍ، فاقرَؤوا منهُ ما تَيسّرَ».
“Meriwayatkan yang lafazhnya dari Bukha>ri> bahwa; “Umar bin H{atta>b berkata: “Aku mendengar Hisha>m bin H{aki>m membaca surat al-Furqa>n di masa hidupya Rasulullah saw, aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah saw membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari s{alat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya: “Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?”. Ia menjawab: “Rasulullah saw yang membacakannya kepadaku”, aku menyela: “Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau baca ini”.
Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah saw lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat al-Furqa>n dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat al-Furqa>n ini kepadaku”. Rasulullah saw menjawab: “Hai ‘Umar! lepaskan dia. “Bacalah Hisha>m!”. Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia membacanya. Rasululllah saw bersabda: “Begitulah surat itu diturunkan” sambil menyambung sabdanya: “Bahwa al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah yang paling mudah!”. [6]
  • حدّثنا مُحمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللّهِ بْنِ نُمَيْرٍ . حَدَّثَنَا أَبِي. حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عَيسَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ جَدِّهِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: كُنْتُ فِي الْمَسْجِدِ. فَدَخَلَ رَجُلٌ يُصَلِّي. فَقَرَأَ قِرَاءَةٍ أَنْكَرْتُهَا عَلَيْهِ. ثُمَّ دَخَلَ آخَرُ. فَقَرَأَ قِرَاءَةً سِوَى قِرَاءَةِ صَاحِبِهِ. فَلَمَّا قَضَيْنَا الصَّلاَةَ دَخَلْنَا جَمِيعاً عَلَى رَسُولِ اللّهِ . فَقُلْتُ: إِنَّ هذَا قَرَأَ قِرَاءَةً أَنْكَرْتُهَا عَلَيْهِ. وَدَخَلَ آخَرُ فَقَرَأَ سِوَى قِرَاءَةِ صَاحِبِهِ. فَأَمَرَهُمَا رَسُولُ اللّهِ فَقَرَآ. فَحَسَّنَ النَّبِيُّ شَأْنَهُمَا. فَسُقِطَ فِي نَفْسِي مِنَ التَّكْذِيبِ. وَلاَ إِذْ كُنْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ. فَلَمَّا رَأَى رَسُولُ اللّهِ مَا قَدْ غَشِيَنِي ضَرَبَ فِي صَدْرِي. فَفِضْتُ عَرَقاً. وَكَأَنَّمَا أَنْظُرُ إِلَى اللّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَقاً. فَقَالَ لِي: «يَا أُبَيُّ أُرْسِلَ إِلَيَّ: أَنِ اقْرَإِ الْقُرْآنَ عَلَى حَرْفٍ. فَرَدَدْتُ إِلَيْهِ: أَنْ هَوِّنْ عَلَى أُمَّتِي. فَرَدَّ إِلَيَّ الثَّانِيَةَ: اقْرَأْهُ عَلَى حَرْفَيْنِ. فَرَدَدْتُ إِلَيْهِ: أَنْ هَوِّنْ عَلَى أُمَّتِي. فَرَدَّ إِلَيَّ الثَّالِثَةَ: اقْرَأْهُ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ. فَلَكَ بِكُلِّ رَدَّةٍ رَدَدْتُكَهَا مَسْأَلَةٌ تَسْأَلُنِيهَا. فَقُلْتُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأُمَّتِي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأِمَّتِي. وَأَخَّرْتُ الثَّالِثَةَ لِيَوْمٍ يَرْغَبُ إِلَيَّ الْخَلْقُ كُلُّهُمْ. حَتَّى إِبْرَاهِيمُ ».
“Diriwayatkan dengan sanadnya dari Ubay bin Ka’ab ia berkata: “Aku berada di masjid, tiba-tiba masuklah lelaki, ia shalat kemudian membaca bacaan yang aku ingkari. Setelah itu masuk lagi lelaki lain membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama”. Setelah kami selesai s{alat, kami bersama-sama masuk ke rumah Rasulullah saw, lalu aku bercerita: “Bahwa si lelaki ini membaca bacaan yang aku ingkari dan kawannya ini membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama”. Akhirnya Rasulullah saw memerintahkan keduanya untuk membaca.
Setelah mereka membaca Rasulullah saw menganggap baik bacaannya. Setelah menyaksikan hal itu, terhapuslah dalam diriku sikap untuk mendustakan, tidak seperti halnya diriku ketika masa Jahiliyyah. Nabi menjawab demikian tatkala beliau melihat diriku bersimbah peluh karena kebingungan, ketika itu keadaan kami seolah-olah berkelompok-kelompok di hadapan Allah Yang Maha Agung.
Setelah melihat saya dalam keadaan demikian, beliau menegaskan pada diriku dan berkata: “Hai Ubay! Aku diutus untuk membaca al-Qur’a>n dengan suatu huruflahjah (dialek)”, kemudian aku meminta pada Jibril untuk memudahkan umatku, dia membacakannya dengan huruf kedua, akupun meminta lagi padanya untuk memudahkan umatku, lalu ia menjawab untuk ketiga kalinya. “Hai Muhammad, bacalah al-Qur’a>n dalam 7 lahjah dan terserah padamu Muhammad apakah setiap jawabanku kau susul dengan pertanyaan permintaan lagi”.
Kemudian aku menjawabnya: “Wahai Allah! Ampunilah umatku, ampunilah umatku dan akan kutangguhkan yang ketiga kalinya pada saat dimana semua makhluk mencintaiku sehingga Nabi Ibra>hi>m as”.[7]
  • حدثنا أَحْمَدُ بنُ مَنِيع أخبرنا الْحَسَنُ بنُ مُوسَى أخبرنا شَيْبَانُ عن عَاصِمٍ عن زِرِّ بنِ حُبَيْشٍ عن أُبيِّ بنِ كَعْبٍ ، قالَ: «لَقِيَ رَسُولُ الله جِبْرَيلَ، فَقَالَ: «يَا جِبْرَيلُ إِنِّي بُعِثْتُ إِلَى أُمَّةٍ أُمِّيينَ مِنْهُمْ العَجُوزُ وَالشَّيْخُ الكَبِيرُ وَالغلاَمُ وَالْجَارِيَةُ وَالرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يَقْرَأْ كِتَاباً قَطُّ،» قالَ: يَا مُحمَّدُ إِنَّ القُرآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ» .
قال أبو عيسى: هذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ وقدْ رُوِي مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عن أُبيِّ بنِ كَعْبٍ.
“Riwayat Ubay bin Ka’ab, ia mengatakan: “Rasulullah saw berjumpa dengan Jibri>l di gundukan Marwah”. Ia (Ka’ab) berkata: “Kemudian Rasul berkata kepada Jibri>l bahwa aku ini diutus untuk ummat yang ummy (tidak bisa menulis dan membaca). Diantaranya ada yang kakek-kakek tua, nenek-nenek bangka dan anak-anak”. Jibri>l menjawab: “Perintahkan, membaca al-Qur’a>n dengan tujuh huruf”. Imam al-Turmudhy mengatakan: “Hadith ini hasan lagi shahih”.[8]
Dari beberapa hadith yang disebutkan di atas, Tidak terdapat nas sarih yang menjelaskan maksud dari sab’ah ah{ruf. Sehingga menjadi hal yang lumrah kalau para ulama’, berdasarkan ijtihadnya masing-masing, berbeda pendapat dalam menafsirkan pengertiannya. al-Suyu>t{i> dalam kitabnya al-It{qa>n fi> al-’Ulu>m al-Qur’a>nmengatakan bahwa perbedaan ulama’ dalam masalah ini sekitar empat puluh pendapat.[9] Perbedaan ulama’ mengenai pengertian sab’ah ah{ruf ini tidak berasal dari tingkatan kualifikasi mereka atas hadith-hadith tentang tema dimaksud. Perbedaan itu justru muncul dari lafaz{sab’ah dan ah{ruf yang masuk kategori lafaz{-lafaz} mushtarak, yaitu lafaz{-lafaz{ yang mempunyai banyak kemungkinan arti, sehingga memungkinkan dan mengakomodasi segala jenis penafsiran. Selain itu juga disebabkan adanya fenomena historis tentang periwayatan bacaan al-Qur’a>n yang memang beragam.
D. Perbedaan Pendapat Para Ulama’ Tentang Pengertian kata ” Ah{ruf Sab’ah ” dalam Hadith
Disini banyak sekali pertentangan dan perselisihan pendapat. Berikut ini akan dikemukana sebagiannya seperti yang telah dijelaskan Dr. al-Sa>ih} ‘Ali> H}usain dalam kitabnya Madkhal al-Dira>sa>t al-Qur’a>niyah, sebagai beikut :[10]
1. Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari kalangan orang Arab dalam pengertian yang sama. Dengan pengertian bahwa dialek orang-orang Arab dalam mengungkapkan suatu maksud itu berbeda-beda, sedangkan al-Qur’a>n datang dengan menggunakan lafaz}-lafaz{ menurut dialek tersebut. Kalau saja terdapat perbedaan, niscaya, al-Qur’a>n akan diturunkan dalam suatu lafaz{ saja. Adapun yang dimaksud tujuh bahasa menurut pendapat tersebut adalah bahasa: Quraisy, Saqif, Hawazan, Kina>nah, Tami>m, dan Yaman.
2. Sebagian ulama’ lainnya mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh bahasa dari orang-orang Arab yang menjadi tempat al-Qur’a>n diturunkan., dengan pengertian bahwa al-Qur’a>n secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh bahasa tadi, yaitu : yang paling baik dikalangan Arab. Kebanyakan bahasa yang dipakai oleh al-Qur’a>n adalah bahasa Quraish, adapula yang Huzail, Saqi>f, Kina>nah, Tami>m dan Yaman.
3. Yang dimaksud dengan Tujuh Huruf adalah tujuh macam di dalam al-Qur’an. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menentukan macam dan uslubpengungkapannya. Diantara mereka ada yang manyatakan bahwa bagian yang dimaksud adalah: Amr, Nahi>, Hala>l, Hara>m, Muhkan, Mutasha>bih dan “Amal. Sementara itu, ulama’ lainnya mengatakan:Wa’ad, Wa’i>d, Hala>l, Hara>m, Mawai<d, Ams}a>l, dan Ihtija>j. Pendapat lainnya mengatakan: Muhkam, Mutasha>bih, Nasi>kh, Mansu>kh, Khusu>s, Umu>m dan Qas{as}.
4. Tujuh huruf juga diartikan beberapa segi lafaz{ yang berbeda dalam satu kalimat dan satu arti seperti lafaz:Halumma, Aqbil, Ta’al, Ajjil, Asri’, ilayya, qurbi dan lain-lain. Lafaz{ yang tujuh tersebut memiliki satu pengertian yaitu perintah “datanglah”.
5. Ada juga yang mengartikan tujuh huruf dengan perbedaan dalam tujuh hal:
a. Perbedaan nama-nama dalam bentuk Mufrad, Mudhakkar, dan cabang-cabangnya . seperti dalam firman Allah swt :
tûïÏ%©!$#ur öNèd öNÎgÏF»oY»tBL{ öNÏdωôgtãur tbqããºu‘ ÇÑÈ
NÎgÏF»oY»tBL{ dibaca dalam bentuk jamak.
b. Perbedaan dalam tasrifanya, dari bentuk Ma>d{i>, Mud}a>ri’, dan Amar. Contoh firman Allah swt:
(#qä9$s)sù $uZ/u‘ ô‰Ïè»t/ tû÷üt/ $tRÍ‘$xÿó™r& (#þqßJn=sßuröNåk|¦àÿRr& öNßg»oYù=yèyfsù y]ƒÏŠ%tnr&öNßg»oYø%¨“tBur ¨@ä. A-¨“yJãB 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUyÈe@ä3Ïj9 9‘$¬7|¹ 9‘qä3x© ÇÊÒÈ
Kata باعد diartikan menjadi jauhkanlah karena statusnya sebagai fi’il Amar, sehingga artinya terlalu jauh.
c. Perbedaan dalam ibdal (pergantian), baik berupa pergantian huruf dengan huruf, atau lafaz{ dengan lafaz{. Contohnya :
8xù=sÛur 7ŠqàÒZ¨B ÇËÒÈ
Bisa dibaca : وطلع
d. Perbedaan dalam Taqdi>m dan Ta’khi>r yang adakalanya bentuk huruf, dan adakalanya bentuk kalimah.
ôNuä!%y`ur äotõ3y™ ÏNöqyJø9$# Èd,ptø:$$Î/ ( y7Ï9ºsŒ $tB|MYä. çm÷ZÏB ß‰‹ÏtrB ÇÊÒÈ
Bisa dibaca : وجائت سكرة الموت بالحق
e. Perbedaan dari segi I’ra>b. Contoh firman Allah swt :
$¬Hs>sù ôMyèÏJy™ £`Ïd̍õ3yJÎ/ ôMn=y™ö‘r& £`ÍköŽs9Î)ôNy‰tGôãr&ur £`çlm; $\«s3GãB ôMs?#uäur ¨@ä. ;oy‰Ïnºur£`åk÷]ÏiB $YZŠÅj3Å™ ÏMs9$s%ur ólã÷z$# £`ÍköŽn=tã ($¬Hs>sù ÿ¼çmuZ÷ƒr&u‘ ¼çmtR÷Žy9ø.r& z`÷è©Üs%ur£`åku‰Ï‰÷ƒr& z`ù=è%ur |·»ym ¬! $tB #x‹»yd #·Ž|³o0 ÷bÎ) !#x‹»ydžwÎ) Ô7n=tB ÒOƒÌx. ÇÌÊÈ
Ibnu Mas’u>d membacanya dengan rafa’ما هذا بشر
f. Perbedaan dari segi penambahan dan pengurangan.Seperti firman Allah swt:
$tBur t,n=y{ tx.©%!$# #Ós\RW{$#ur ÇÌÈ
Dibaca والذكر والأنثى dengan membuang lafaz ما خلق
g. Perbedaan lahjah yang cenderung ke bacaanTafkhi>m (tebal) dan Tarqi>q (tipis), seperti dalam firman Allah swt :
ö@yd y79s?r& ß]ƒÏ‰ym #Óy›qãB ÇÊÎÈ
Perbedaan yang terakhir ini dikemukakan oleh imam al-Razi> dan didukung oleh Ibnu Qatabah, Ibnu Jaza>ri> dan Ibnu T{ayyib.[11]
E. Analisa
Menurut mayoritas ulama’, pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat ke-empat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa. Seperti : Aqbil, Ta’al, Halumma, Ajjil, dan Asri’, Ilayya, Qurbi> dan lain-lain. Lafaz{-lafaz} tersebut berbeda tapi tunggal semakna. Pendapat ini didukung oleh Sufya>n bin ‘Uyaynah, Ibnu Jari>r, Ibnu Waha>b dan masih banyak ulama’ lainnya. [12]
Pendapat ini juga didukung dengan hadith :
حدّثنا عبد الله حدَّثني أبي حدثنا عفان حدثنا حماد بن سلمة أنبانا علي بن زيد عن عبد الرحمن بن أبي بكرة عن أبي بكرة : «أن جبريل عليه السلام قال: يا محمد، اقرأ القرآن على حرف، قال ميكائل عليه السلام: استزده، فاستزاده، قال: اقرأه على حرفين، قال ميكائيل: استزده، فاستزاده حتى بلغ سبعة أحرف، قال: كل شاف كاف ما لم تختم آية عذاب برحمة، أو آية رحمة بعذاب، نحو قولك تعال وأقبل، وهلم واذهب، وأسرع وأعجل».
“ Diriwayatkan dari Abi> Bakrah: ” Jibri>l Berkata : Hai Muhammad aku akan bacakan al-Qur’a>n dengan satu huruf. Lalu Mika>ii>l berkata: Tambahkan lagi untuknya. Jibri>l berkata: aku akan menambahkannya dua huruf lagi. Kemudian Mika>ii>l berkata: Tambah lagi. Akhirnya Jibri>l menambahnya sampai denga tujuh huruf. Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya al-Qur’a>n ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah semampunya dan tidak berdosa. Tetapi jangan sekali-kali mengakhiri dzikir rahmat dengan ‘adza>b atas dzikir ‘adza>b dengan rahmat, seperti ucapanmu: Ta’al, Aqbil, Halumma, Izhab, Asri’ dan A’jil“.[13]


[1] Manna’ al-Qattan, Maba>hith fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Beirut: al-’Asr al-Hadith, 1973), 156
[2] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, juz. 3, (Beirut: Dar al-Kutub, 2004), 1176
[3] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997). 254-255.
[4] Ibid.
[5] Muhammad Abdul ‘Adhim al-Zarqani, Manahil al-’Irfan, (Beirut: Dar al-Fikr, 1988)154.
[6] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, juz. 2. 851
[7] Muslim al-Hajjaj, Sahih Muslim, juz. 6 (Beirut: Dar al-Kutub, 1992). 83
[8] Muhammad bin Isa al-Turmudi, Sunan al-Turmudi, juz. 8 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1994). 222
[9] Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, juz. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1951). 45
[10] al-Sa>ih{ ‘Ali> H}usain, Madkhal al-Dira>sat al-Qur’aniyah, (Tripoli: Da’wah Islamiyah, 2000). 140-145.Lihat juga, Muhammad Ali al-Sabuni, Studi Ilmu al-Qur’an, Terj. Aminuddin, (Bandung: Pustaka Setia, 1999). 363.
[11] Rosihan Anwar, Samudra al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2001). 125-127.
[12] Manna’ al-Qattan, Maba>hith fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n. 162
[13] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, juz. 6., (Kuwait: Maktabah Dar al-Aqsa.1985). 37

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme