Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Berdebat Dengan Munafiq


Oleh Reza Pratama
Beberapa kali mungkin kita terjebak dalam debat. Kadang malah terlihat tak berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina, bahkan tak jarang kata-kata kasar terlontar. Baru saja, sebelum menuliskan catatan singkat ini, saya membaca tulisan seorang saudara di akun twitternya.
Darinya, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini terkait sikap seorang da’i dalam menghadapi orang-orang munafiq. Allah berfirman,
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh". (QS al A'raaf 199)
Mengomentari ayat ini, Sayyid Quthb, dalam Zhilal, berkata, " Inilah arahan-arahan rabbaniyah di dalam menghadapi kejahiliyahan yang sangat buruk, di dalam menghadapi kemanusiaan yang tersesat. Arahan rabbani menyeru da'i untuk berlapang dada dan toleran. Juga supaya menyampaikan perintah dengan jelas untuk melakukan kebaikan yang sudah dikenal oleh fitrah manusia dengan lapang dengan tidak mempersulit dan tidak memperberat. Juga supaya ia berpaling dari tindak kejahiliyahan, dengan tidak menjatuhkan hukuman pada mereka, tidak mengajaknya/melayaninya berdebat, dan tidak ikut bersama-sama mereka", ujarnya.
Apabila mereka melampaui batas dan menimbulkan kebencian dengan keras kepala dan menghalang-halangi, dan setan mengembuskan kebencian itu, maka hendaklah seorang da'i memohon perlindungan pada Allah agar hatinya tenang, tenteram, dan bersabar.
Sementara itu, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, berkata, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dia menceritakan sebuah kisah mengenai umar ketika salah satu tamunya membuatnya marah. Maka al Hur bin Qais berkata padanya, “Yaa amiral mu'minin, sesungguhnya Allah ta'ala berfirman pada nabi, 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah dengan ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh'.”
Ibnu Jarir berkata bahwa sesungguhnya nabi telah memerintahkan agar dia menyuruh pada yang ma'ruf pada hamba-hambanya. Termasuk dalam yang ma'ruf itu adalah segala ketaatan, dan menyuruh berpaling dari orang-orang yang bodoh...
Mari tetap bersikap dingin menghadapi orang-orang munafiq. Sebab, Allah berkata bahwa memang seperti itulah tabiat mereka. Mereka akan tetap bersikap seperti itu hingga mereka mau mengubah apa yang ada dalam dirinya, yang kemudian berakibat pada turun tangannya Allah dalam mengubah hatinya, dalam mengubah sikapnya.
"Dan jika dikatakan pada mereka, "Marilah (kembali) pada apa yang diturunkan oleh Allah dan kepada rasulnya." kamu pasti akan melihat orang2 munafiq itu menghalang2i kamu dengan keras". (QS an Nisaa' 61)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada dalam qaum itu, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka". (QS ar Ra'd 13)
Menghadapi mereka, Allah memerintahkan kita untuk memberikan "qaulan baliigha" pada mereka.
"Mereka itu adalah orang2 yang Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Krn itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah pada diri mereka qaulan baliigha (perkataan yang membekas)". (QS an Nisaa' 63)
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan qaulan baliigha itu? Untuk lebih mudahnya, mari kita simak nasihat Syaikh Utsaimin berikut ini. Beliau, dalam ash Shohwatul Islamiyyah, berkata bahwa bashirah, khususnya dalam da'wah itu ada tiga: pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah.
Yang pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Pengetahuan atau penguasaan atas ilmu. Yang ini jelas merupakan syarat da’wah pertama. Tidak perlu saya jelaskan lagi lebih jauh. Sebab apa lagi yang akan dijelaskan oleh seorang da’i selain ilmu mengenai Islam? Bukankah mereka yang tak memiliki sesuatu tak dapat memberikan sesuatu?
Mengenai hal ini, Syaikh Utsaimin berkata, Sebagian orang menghukumi sebagian perkara yang bukan merupakan kewajiban sebagai perkara yang wajib; dibangun dengan ijtihad yang keliru, ta’wil, dan syubhat yang tiada dasarnya. Apalagi menjadikan hal tersebut sebagai tolok ukur wala’ dan bara’! Apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat dengannya, ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri telah menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Namun, apabila pendapat seseorang sesuai dengan pendapatnya, ia pun mencintainya.
Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Pengetahuan atas objek da’wah. Hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berda’wah di Yaman. Saat itu, beliau bersabda, Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. (Muttafaqun ‘alaih)
Kata-kata ini tentu bukan tanpa maksud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan kita mengetahui objek da’wah sebelum berda’wah padanya. Kita patut mengetahui tingkat ilmunya, kemampuannya dalam diskusi maupun debat, dan sebagainya, supaya kita kemudian mampu mengambil hatinya dan mengajaknya pada Islam. Asy Syaikh kemudian mengutip sebuah hadis berikut, Sesungguhnya kalian akan saling mengalahkan di hadapanku, dan sebagian kalian lebih cerdas dalam mengemukakan pendapat daripada sebagian yang lain. Maka aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang kudengar. Barangsiapa yang mengajukan perkara demi mengambil hak saudaranya, janganlah diambil. Sesungguhnya barangsiapa yang berhenti dari hal itu, terputuslah api neraka baginya. (Muttafaqun ‘alaih)
Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah. Pengetahuan atas da’wah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal mereka masing-masing". (HR. Muslim).
Ini penting, sebab tidak semua manusia memiliki standar yang sama dalam menilai perkataan orang lain. Bisa jadi, karena kita membaca al Quran dan mendapati nabi Ibrahim yang merupakan khalilullah itu sampai menyebut ummatnya sesat dengan perkataan yang jelas itu (QS 21:54), lantas kita berbuat hal yang sama.
Perlu kita perhatikan kultur masyarakat yang berkembang. Jelas berbeda kultur masyarakat nabi Ibrahim dengan kultur masyarakat kita, meski model ma’shiyatnya sama saja. Sama-sama kesyirikan yang jadi masalah. Jelas berbeda kultur masyarakat Arab zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan budaya masyarakat Indonesia saat ini. Dahulu, ada sebuah qabilah yang nyaman saja disebut “bani kalb”. Tapi tentu itu tak tepat bila sebutan itu disematkan—dengan alasan apa pun—pada penduduk Indonesia. Dahulu ada sahabat yang lazim dipanggil Abu Hurairah. Tak pas pula rasanya bila panggilan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kemudian kita sematkan pada tetangga kita yang menyukai kucing.
Untuk itu, Rasul kemudian memerintahkan kita untuk berbicara—dalam rangka berda’wah, tentu—menurut kadar akal objek da’wah. Semata supaya pesan da’wah ini tak tertinggal. Supaya maksud besarnya tak terpotong.
Ada sebuah kekhawatiran dari dalam diri saya melihat da’i yang mengabaikan rambu-rambu ini: akan ada perdebatan-perdebatan tak berkualitas yang secara perlahan tapi pasti akan menurunkan izzah para da’i di mata mad’unya. Akibatnya, belum satu kalimat terlontar dari lisan kita, keengganan mereka sudah muncul terlebih dahulu. Jadilah niat kita untuk berda’wah tak terlaksana.
Syariat ini perlu disampaikan. Salah satu wasilahnya adalah dengan cara beradu argumen (QS 16:125). Berdebat, dengan kata lain. Di sisi lain, kita mudah menjumpai ayat maupun hadis yang berisi anjuran untuk meninggalkan debat. Apalagi bila debat itu mempertanyakan hukum atau syariat Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran mereka sekali-sekali tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan pada Allah. Sesungguhnya Ia maha mendengar lagi maha melihat. (QS al Mu’min 56)
Namun, sekali lagi, penguasaan kita terhadap medan da’wah diuji di sini, di mana kita harus menempatkan diri kita di posisi pertengahan. Lembut dalam berda’wah memang dianjurkan. Tapi jelas tidak untuk setiap saat dan tempat. Serupa debat Ibrahim ‘alaihissalam muda dengan Namrudz. Atau seperti argumen-argumen Musa ‘alaihissalam di hadapan Fir’aun.
"Janganlah kamu mengikuti orang2 yang mendustakan ayat2 Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (juga) padamu". (QS al Qalam 8-9)

Berdebat Dengan Munafiq


Oleh Reza Pratama
Beberapa kali mungkin kita terjebak dalam debat. Kadang malah terlihat tak berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina, bahkan tak jarang kata-kata kasar terlontar. Baru saja, sebelum menuliskan catatan singkat ini, saya membaca tulisan seorang saudara di akun twitternya.
Darinya, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini terkait sikap seorang da’i dalam menghadapi orang-orang munafiq. Allah berfirman,
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh". (QS al A'raaf 199)
Mengomentari ayat ini, Sayyid Quthb, dalam Zhilal, berkata, " Inilah arahan-arahan rabbaniyah di dalam menghadapi kejahiliyahan yang sangat buruk, di dalam menghadapi kemanusiaan yang tersesat. Arahan rabbani menyeru da'i untuk berlapang dada dan toleran. Juga supaya menyampaikan perintah dengan jelas untuk melakukan kebaikan yang sudah dikenal oleh fitrah manusia dengan lapang dengan tidak mempersulit dan tidak memperberat. Juga supaya ia berpaling dari tindak kejahiliyahan, dengan tidak menjatuhkan hukuman pada mereka, tidak mengajaknya/melayaninya berdebat, dan tidak ikut bersama-sama mereka", ujarnya.
Apabila mereka melampaui batas dan menimbulkan kebencian dengan keras kepala dan menghalang-halangi, dan setan mengembuskan kebencian itu, maka hendaklah seorang da'i memohon perlindungan pada Allah agar hatinya tenang, tenteram, dan bersabar.
Sementara itu, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, berkata, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dia menceritakan sebuah kisah mengenai umar ketika salah satu tamunya membuatnya marah. Maka al Hur bin Qais berkata padanya, “Yaa amiral mu'minin, sesungguhnya Allah ta'ala berfirman pada nabi, 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah dengan ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh'.”
Ibnu Jarir berkata bahwa sesungguhnya nabi telah memerintahkan agar dia menyuruh pada yang ma'ruf pada hamba-hambanya. Termasuk dalam yang ma'ruf itu adalah segala ketaatan, dan menyuruh berpaling dari orang-orang yang bodoh...
Mari tetap bersikap dingin menghadapi orang-orang munafiq. Sebab, Allah berkata bahwa memang seperti itulah tabiat mereka. Mereka akan tetap bersikap seperti itu hingga mereka mau mengubah apa yang ada dalam dirinya, yang kemudian berakibat pada turun tangannya Allah dalam mengubah hatinya, dalam mengubah sikapnya.
"Dan jika dikatakan pada mereka, "Marilah (kembali) pada apa yang diturunkan oleh Allah dan kepada rasulnya." kamu pasti akan melihat orang2 munafiq itu menghalang2i kamu dengan keras". (QS an Nisaa' 61)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada dalam qaum itu, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka". (QS ar Ra'd 13)
Menghadapi mereka, Allah memerintahkan kita untuk memberikan "qaulan baliigha" pada mereka.
"Mereka itu adalah orang2 yang Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Krn itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah pada diri mereka qaulan baliigha (perkataan yang membekas)". (QS an Nisaa' 63)
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan qaulan baliigha itu? Untuk lebih mudahnya, mari kita simak nasihat Syaikh Utsaimin berikut ini. Beliau, dalam ash Shohwatul Islamiyyah, berkata bahwa bashirah, khususnya dalam da'wah itu ada tiga: pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah.
Yang pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Pengetahuan atau penguasaan atas ilmu. Yang ini jelas merupakan syarat da’wah pertama. Tidak perlu saya jelaskan lagi lebih jauh. Sebab apa lagi yang akan dijelaskan oleh seorang da’i selain ilmu mengenai Islam? Bukankah mereka yang tak memiliki sesuatu tak dapat memberikan sesuatu?
Mengenai hal ini, Syaikh Utsaimin berkata, Sebagian orang menghukumi sebagian perkara yang bukan merupakan kewajiban sebagai perkara yang wajib; dibangun dengan ijtihad yang keliru, ta’wil, dan syubhat yang tiada dasarnya. Apalagi menjadikan hal tersebut sebagai tolok ukur wala’ dan bara’! Apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat dengannya, ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri telah menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Namun, apabila pendapat seseorang sesuai dengan pendapatnya, ia pun mencintainya.
Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Pengetahuan atas objek da’wah. Hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berda’wah di Yaman. Saat itu, beliau bersabda, Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. (Muttafaqun ‘alaih)
Kata-kata ini tentu bukan tanpa maksud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan kita mengetahui objek da’wah sebelum berda’wah padanya. Kita patut mengetahui tingkat ilmunya, kemampuannya dalam diskusi maupun debat, dan sebagainya, supaya kita kemudian mampu mengambil hatinya dan mengajaknya pada Islam. Asy Syaikh kemudian mengutip sebuah hadis berikut, Sesungguhnya kalian akan saling mengalahkan di hadapanku, dan sebagian kalian lebih cerdas dalam mengemukakan pendapat daripada sebagian yang lain. Maka aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang kudengar. Barangsiapa yang mengajukan perkara demi mengambil hak saudaranya, janganlah diambil. Sesungguhnya barangsiapa yang berhenti dari hal itu, terputuslah api neraka baginya. (Muttafaqun ‘alaih)
Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah. Pengetahuan atas da’wah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal mereka masing-masing". (HR. Muslim).
Ini penting, sebab tidak semua manusia memiliki standar yang sama dalam menilai perkataan orang lain. Bisa jadi, karena kita membaca al Quran dan mendapati nabi Ibrahim yang merupakan khalilullah itu sampai menyebut ummatnya sesat dengan perkataan yang jelas itu (QS 21:54), lantas kita berbuat hal yang sama.
Perlu kita perhatikan kultur masyarakat yang berkembang. Jelas berbeda kultur masyarakat nabi Ibrahim dengan kultur masyarakat kita, meski model ma’shiyatnya sama saja. Sama-sama kesyirikan yang jadi masalah. Jelas berbeda kultur masyarakat Arab zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan budaya masyarakat Indonesia saat ini. Dahulu, ada sebuah qabilah yang nyaman saja disebut “bani kalb”. Tapi tentu itu tak tepat bila sebutan itu disematkan—dengan alasan apa pun—pada penduduk Indonesia. Dahulu ada sahabat yang lazim dipanggil Abu Hurairah. Tak pas pula rasanya bila panggilan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kemudian kita sematkan pada tetangga kita yang menyukai kucing.
Untuk itu, Rasul kemudian memerintahkan kita untuk berbicara—dalam rangka berda’wah, tentu—menurut kadar akal objek da’wah. Semata supaya pesan da’wah ini tak tertinggal. Supaya maksud besarnya tak terpotong.
Ada sebuah kekhawatiran dari dalam diri saya melihat da’i yang mengabaikan rambu-rambu ini: akan ada perdebatan-perdebatan tak berkualitas yang secara perlahan tapi pasti akan menurunkan izzah para da’i di mata mad’unya. Akibatnya, belum satu kalimat terlontar dari lisan kita, keengganan mereka sudah muncul terlebih dahulu. Jadilah niat kita untuk berda’wah tak terlaksana.
Syariat ini perlu disampaikan. Salah satu wasilahnya adalah dengan cara beradu argumen (QS 16:125). Berdebat, dengan kata lain. Di sisi lain, kita mudah menjumpai ayat maupun hadis yang berisi anjuran untuk meninggalkan debat. Apalagi bila debat itu mempertanyakan hukum atau syariat Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran mereka sekali-sekali tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan pada Allah. Sesungguhnya Ia maha mendengar lagi maha melihat. (QS al Mu’min 56)
Namun, sekali lagi, penguasaan kita terhadap medan da’wah diuji di sini, di mana kita harus menempatkan diri kita di posisi pertengahan. Lembut dalam berda’wah memang dianjurkan. Tapi jelas tidak untuk setiap saat dan tempat. Serupa debat Ibrahim ‘alaihissalam muda dengan Namrudz. Atau seperti argumen-argumen Musa ‘alaihissalam di hadapan Fir’aun.
"Janganlah kamu mengikuti orang2 yang mendustakan ayat2 Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (juga) padamu". (QS al Qalam 8-9)

Persatuan Umat, Kewajiban Agama Yang Luput Dari Perhatian


Oleh Ilham Jaya Abdul Rauf
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada kekasih dan Rasul-Nya, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, mega-proyek neo-kolonialisme Barat berikutnya adalah menciptakan disintegrasi politik dalam tubuh umat Islam. Tujuannya, memandulkan kekuatan Islam agar mudah dieksploitasi.
Untuk menyukseskan mega-proyek tersebut, Barat sengaja menciptakan, dan selanjutnya memelihara, konflik perbatasan pada setiap sudut bumi. Konflik tersebut dapat dipicu sewaktu-waktu Barat menginginkannya.
Di sisi lain, untuk menjamin bahan-bakar konflik dan perpecahan tersebut, secara kultural, Barat juga sengaja menciptakan konflik-konflik sektarian berbasis nasionalisme semu. Sasarannya, agar Arab terisolir dari basis ruhiyah dan pengaruh Islamnya. Sebagaimana konflik sektarian berbasis nasionalisme itu juga untuk memecah-belah bangsa Arab kepada blok-blok primordialisme yang sempit.
Tidak sampai di situ, Barat secara agresif memanfaatkan setiap momentum untuk terus menciptakan perpecahan serta mendorong gerakan-gerakan separatis di dunia Islam. Sehingga energi dan potensi umat Islam terkuras; dan jalan menuju kemajuan dan peradaban mereka senantiasa menemui jalan buntu.
Dalam satu dekade terakhir, tercatat sejumlah proyek disintegrasi yang berhasil direkayasa Barat di dunia Islam. Terdapat tiga yang utama:
Pertama, pemisahan Sudan Selatan sebagai pintu utama untuk memecah belah Sudan di masa yang akan datang.
Kedua, pemecahan Irak secara politik kepada tiga negara kecil. Satu kondisi yang akan menjebak negara-negara tersebut sekadar boneka di “tangan” Barat yang pada babak berikutnya akan berlomba untuk mencari muka kepada Barat.
Ketiga, pemisahan Yaman Selatan.
Selain tiga yang telah disebutkan itu, terdapat sejumlah proyek lain yang sewaktu-waktu diangkat ke permukaan. Seperti disintegrasi politik di Teluk, separatisme Qibti di selatan Mesir, gerakan pemisahan sahara Maroko, disintegrasi politik di Pakistan, dll.
Demikian krusial isu separatisme dan disintegrasi di dunia Islam seperti dipaparkan di atas, namun sikap politik yang paradoks senantiasa terjadi: setiap kali isu tersebut diangkat pada forum-forum politik dan media Arab, isu tersebut senantiasa digiring ke dalam konteks politik dalam negeri yang sempit yang tak boleh “disentuh” dunia luar. Pada saat pihak Barat justru bebas memainkan perannya dan turut campur tangan terhadap kepentingan umat Islam.
Lemahnya perhatian umat terhadap kewajiban menjaga persatuan Islam merupakan isu kontemporer yang sangat krusial. Di tengah banyaknya perintah Al-Qur’an dan Hadits yang menyerukan persatuan, mendorong terciptanya kesatuan dan melarang perpecahan.
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. (Terj. QS. As-Syura [42] : 13)
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Terj. QS. Ali Imran [3] : 103)
Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk bersatu; dan melarang mereka berpecah. Dia menyuruh meraka agar berpegang kepada agama sehingga mereka bersatu utuh.
Inti dari risalah umat Islam adalah bersatunya umat dalam ibadah dan pengagungan kepada Allah.
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (Terj. QS. Al-Mu’minun [23] : 52)
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Terj. QS. Al-Anbiya [21] : 92)
Program pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tiba di Madinah adalah menciptakan masyarakat bersaudara. Masyarakat tersebut terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar; sembari beliau menghapuskan fanatisme kesukuan jahiliyah. Sehingga iman yang menjadi unsur perekat bagi masyarakat.
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. (Terj. QS. At-Taubah [9] : 71)
Dengan kata lain, iman seseorang tak akan sempurna bila dia tidak membangun hubungan dan interaksinya atas fondasi iman tersebut. Sebagai implementasi dari perintah Al-Qur’an.
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Terj. QS. Al-Mujadilah [58] : 22)
Ulama besar, Al-Qadi ‘Iyadh berujar: “Persatuan merupaka salah satu kewajiban agama, fondasi syariat, dan sistem islam.”
Di era Jahiliyah, masyarakat Arab dibangun di atas basis fanatisme suku. Suku merupakan poros kebanggaan masyarakt Arab waktu itu. Setelah Islam datang, bangunan masyarakat tersebut direkonstruksikan kepada basis persaudaraan berdasar agama. Dan Islam menjadikan agama sebagai azas perbedaan.
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Terj. QS. Al-Hujurat [49] : 10)
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Terj. QS. Al-Hujurat [49] : 13)
Pada saat Fathu Makkah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhotbah dan memproklamirkan azas bangunan umat ini. Katanya: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian keangkuhan Jahiliyah dan kebanggaan kepada nasab. Manusia hanya ada dua: manusia yang baik, takwa, mulia di sisi Allah. Dan manusia durhaka yang celaka dan hina di sisi Allah. Semua manusia keturunan Adam, dan Allah menciptakan Adam dari tanah.”
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Terj. QS. Al-Hujurat [49] : 13)
Di saat Haji Wada’, Nabi memanfaatkan momen berkumpulnya massa untuk menyosialisasikan fondasi persatuan umat. Sabdanya: “Sesungguhnya Rabb kalian satu, bapak kalian satu. Ketahuilah, tak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam, tidak pula orang Ajam atas orang Arab. Tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah atau sebaliknya; melainkan karena takwanya.”
Kendati perubahan yang diinginkan Nabi bukanlah hal yang mudah apalagi formalitas belaka; namun tarbiyah Iman yang telah ditanamkan Nabi merupakan dasar yang kokoh bagi sahabat-sahabatnya untuk mampu mewujudkann perubahan tersebut.
Olehnya itu, Allah menjadikan persatuan sebagai salah satu karunia-Nya yang besar.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Terj. QS. Ali Imran [3] : 103)
Sebagaimana Dia mengingatkan mereka agar tidak lengah dari hilangnya nikmat tersebut.
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Terj. QS. Ali Imran [3] : 105)
Proyek persatuan umat bukanlah cita-cita muluk dan utopia. Tapi tujuan tersebut menyimpan dua sisi yang tak mungkin terpisah satu sama lain:
  1. Adanya upaya sungguh-sungguh untuk membendung proyek diintegrasi yang dirancang Barat.
  2. Adanya upaya untuk membangun kembali simpul-simpul kekuatan peradaban umat, yang di antaranya adalah persatuan umat.
Umat Islam telah lama merasakan pahitnya perpecahan di bawah hegemoni peradaban Barat yang kelam. Dan umat Islam tak mungkin mengentaskan problem tersebut tanpa dia berbalik kepada dasar akidah dan sejarahnya.
Di bulan Dzulhijjah ini, momentum persatuan umat dalam ritual ibadah haji demikian menggugah kita semua. Pakaian jutaan jamaah haji itu satu, tujuan perjalanan mereka satu, Rabb yang mereka seru satu, kiblat shalat dan doa mereka satu, manasik mereka dalam syariat yang satu, dan seluruhnya pada dimensi waktu yang sama.
Momentum tersebut merupakan kesempatan untuk merajut kembali “benang kusut” cita-cita persatuan umat. Implementasi dari perintah Nabi SAW: “Engkau melihat orang-orang beriman dalam kasih sayang, cinta, dan persatuan mereka bagaikan satu tubuh. Bila satu anggota merasakan sakit, seluruh anggota tubuh akan ikut merasakan dengan begadang dan demam.”
Bulan ini adalan kesempatan emas bagi ulama, dai, dan seluruh komponen umat untuk mengajak kembali umat kita meninggalkan “fanatisme Jahiliyah.” Kesempatan untuk mengingatkan umat terhadap konsekuensi ukhuwah dan tolong-menolong atas kebaikan dan takwa. Sebagai jawaban terhadap perintah Allah Ta’ala:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Terj. QS. Al-An’am [6] : 153)

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme