Tampilkan postingan dengan label Israel-Palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Israel-Palestina. Tampilkan semua postingan

Innalillahi, Ahmadinejad Menghina Dua Sahabat Rasul!


Di tengah eforia kemenangannya dalam pemilu Iran yang baru saja digelar, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad saw.
Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.
Seperti yang diketahui, Iran yang berbasis Syiah ini—salah satu aliran Islam yang dianggap menyimpang—sudah sejak lama mempersempit ruang gerak para jamaah ahli Sunnah (kaum Sunni). Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, bahkan para jamaah Sunni mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Rafidi Khomeini.
Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”
Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.
Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad sudah sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Bahkan, pendahulu Ahmadinejad, Rafidi menghina dan menganggap remeh alias menyepelekan 90% Muslim seluruh dunia.
Namun demikian, masih banyak juga pihak atau pengagum Rafidi dan pengingkar sahabat Rasul lainnya seperti Ahmadinejad ini. Mereka adalah orang yang tidak menyadari gerakan Syiah atau mereka yang tak mau memahami rejim 12 Imam ini yang merupakan musuh terbuka terhadap para sahabat Rasul.

Pemilu Mesir: Saatnya Menguji Politik Ikhwan (Habis)



Satu hal yang selalu membayangi Ikhwan dan menjadi ketakutannya sendiri, adalah—menurut Hamid—disamakan dengan Al-Qaidah.
"Kami tidak akan menjadi Iran," desak Ayyash, seraya menambahkan bahwa ia percaya gerakan Islam akan mendukung kepentingan keamanan nasional AS. "Para aktivis gerakan Islamis secara umum berusaha menemukan jalan antara nilai-nilai liberal dari persamaan dan kewarganegaraan, tetapi dari aspek Islam."

Peran perempuan, misalnya, diberikan posisi dalam politik dan kekuasaan.
"Saya percaya bahwa Islam moderat akan memberikan kebebasan bagi partai-partai membentuk ideologi mereka," ujar Ayyash. "Jika orang mengatakan ya untuk homoseksualitas, misalnya, jika saya berada dalam kekuasaan, saya pikir saya akan segera meninggalkan kekuasaan tersebut... dan saya akan berada di oposisi untuk mencoba meyakinkan orang lain bahwa ini adalah salah."

"Tapi," ia menambahkan, "Saya pikir Mesir saat ini akan menolak hal itu karena bertentangan dengan Quran."
Namun, bahkan dengan sikap politik dan demokrasi seperti itupun, Ikhwan tetap secara resmi tidak didukung dan tidak dilindungi oleh AS.


Meskipun Departemen Luar Negeri AS tidak mengeluarkan pernyataan tentang pemilihan parlemen yang akan datang beberapa pekan lalu, para pejabat Amerika merasa tidak pernah seberhasil sekarang ini dalam mempromosikan demokrasi.

Brian Katulis, seorang spesialis senior di Pusat Kemajuan Amerika dan Timur Tengah, berpendapat lain, "Saya tidak berpikir bahwa pemerintahan Bush secerdas itu dalam usaha memajukan agenda kebebasan. Itu sebuah jenis respon yang menyebabkan sebuah penghematan."
Menurut Katulis, selama hampir 60 tahun, Amerika sudah berusaha untuk menerapkan demokrasi di Timur Tengah, namun tidak pernah berhasil. Bush bahkan sampai harus menirim Condoleezza Rice untuk "berteriak dari atap," kata Katulis. "Apa yang sudah dilakukan oleh Obama jauh lebih efektif.”
Menurut sebagian besar pengamat, Mesir saat ini tak lagi ketat menjalankan politik negara mereka. Bahkan diperkirakan jika kita pada tahun 2005, diperkirakan hanya 9% saja persen dari total penduduk yang memberikan suara dalam pemilihan presiden, maka saat ini terjadi pelonjakan tajam. Ini ditengarai akibat dari andil besar Ikhwan yang ironisnya, dilarang untuk mengikuti pemilu.
"Ada beberapa kelompok tertentu yang kami lihat mereka memiliki suara dominan di bawah pemerintahan Bush dan merasa bahwa Anda bisa menjalankan demokrasi tanpa aktivis Islami," kata Katulis. "Saya pikir orang-orang itu tidak pernah menghabiskan waktu di lapangan di tempat-tempat seperti Mesir."
"Sulit membayangkan proses demokratisasi di Mesir tidak melibatkan kelas menengah yang saleh, dimana diwakili oleh Ikhwan," kata Albertson.


Menurut Hamis, Obama harus mengenal langsung Ikhwan, dan menambahkan bahwa ia percaya Gamal Mubarak akan lebih bermusuhan dengan mereka.
"Kaum Liberal dan kaum kiri tidak pernah bisa mengerahkan orang ke jalanan di dunia Arab," kata Hamid. Sedangkan gerakan Islami mendapatkan manfaat dari infrastruktur yang ada untuk menyebarkan pesan mereka—yaitu masjid—dan wacana politik di wilayah ini secara historis berputar sekitar Islam.

Atau dalam bahasa Ayyash : "Orang-orang Arab sangat emosional namun sangat religius, dan mereka lebih dipengaruhi oleh pidato dari para kaum Islami moderat daripada rezim."

Innalillahi, Ahmadinejad Menghina Dua Sahabat Rasul!


Di tengah eforia kemenangannya dalam pemilu Iran yang baru saja digelar, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad saw.
Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.
Seperti yang diketahui, Iran yang berbasis Syiah ini—salah satu aliran Islam yang dianggap menyimpang—sudah sejak lama mempersempit ruang gerak para jamaah ahli Sunnah (kaum Sunni). Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, bahkan para jamaah Sunni mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Rafidi Khomeini.
Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”
Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.
Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad sudah sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Bahkan, pendahulu Ahmadinejad, Rafidi menghina dan menganggap remeh alias menyepelekan 90% Muslim seluruh dunia.
Namun demikian, masih banyak juga pihak atau pengagum Rafidi dan pengingkar sahabat Rasul lainnya seperti Ahmadinejad ini. Mereka adalah orang yang tidak menyadari gerakan Syiah atau mereka yang tak mau memahami rejim 12 Imam ini yang merupakan musuh terbuka terhadap para sahabat Rasul.

Israel Deportasi Aleg Hamas dari Yerusalem ke Tepi Barat


Israel telah mendeportasi Muhammad Abu Tir, seorang anggota parlemen dari gerakan perlawanan Palestina Hamas, dari al-Quds (Yerusalem) ke Tepi Barat yang diduduki.
Pengadilan Israel mengatakan pada hari Rabu kemarin (8/12) bahwa Abu Tir tidak diizinkan untuk terus tinggal di al-Quds.
Anggota parlemen Hamas tersebut ditahan pada akhir Juni lalu dengan alasan bahwa dia tinggal secara ilegal di al-Quds.
"Israel bertujuan untuk mengusir orang-orang Yerusalem (al-Quds). Israel tidak ingin melihat orang Arab di Yerusalem. Mereka ingin melakukan yahudisasi kota," kata Abu Tir kepada wartawan.
Jurubicara Hamas Fawzi Barhum mengutuk keras tindakan Israel, mengatakan hal itu adalah "jelas melanggar konvensi internasional," lapor kantor berita Maan.
Dia menambahkan bahwa hal itu adalah yang terbaru dalam upaya Israel untuk mendorong Palestina keluar dari tanah mereka dan mengkonfirmasi "bahwa pasukan pendudukan tetap melanjutkan kejahatan mereka terhadap orang-orang Palestina.
Pejabat Hamas mendesak Otorita Palestina untuk mengambil sikap tegas tentang masalah ini dan meminta negara-negara Arab untuk "melakukan tugas mereka untuk melindungi penduduk Yerusalem (al-Quds) dan perwakilan dari Palestina."
Israel menduduki al-Quds Timur dalam perang 1967 dan mencaploknya kemudian, sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional. Bagaimanapun, Palestina menginginkan al-Quds Timur sebagai ibukota negara masa depan mereka.

Israel Gunakan Senjata Gas Air Mata Mematikan Kepada Warga Sipil Palestina


Pasukan Israel diklaim membunuh satu warga Palestina, melukai banyak warga lainnya, dengan menggunakan senjata terlarang dan senapan yang berupa tabung gas air mata mematikan, kata sebuah kelompok hak asasi Israel.
"Tentara Israel menembakkan senapan gas air mata dan telah membunuh salah seorang pengunjuk rasa tak bersenjata Palestina dan mencederai banyak lainnya, salah satunya dalam kondisi kritis," kata Sarit Michaeli, direktur komunikasi untuk B'Tselem, kata Pusat Informasi Hak Asasi Manusia Israel di Daerah Pendudukan pada Kamis kemarin (9/12), Reuters melaporkan.
"Jangkauan senapan tabung gas air mata jauh lebih kuat daripada aluminium tabung gas air mata biasa, kami tahu bahwa tembakan tentara Israel secara rutin dilakukan terhadap para pengunjuk rasa, mereka sangat berbahaya," kata sumber itu.
Senapan yang terdiri atas tabung gas air mata, dilengkapi dengan jet propelan yang kuat, hampir tidak mungkin untuk mendeteksi dalam tembakannya, sehingga melipat gandakan efek mematikan senjata tersebut.
Michaeli mencatat bahwa tabung tersebut telah digunakan dalam beberapa minggu terakhir terhadap pengunjuk rasa di Tepi Barat yang diduduki.
Lembaga HAM itu mengatakan bahwa mereka telah mencatat tiga insiden pada bulan lalu, ketika para demonstran di desa Tepi Barat Nabi Salah telah ditargetkan dengan granat.
Awal tahun ini, sebuah laporan oleh kantor berita Ma'an Palestina menunjukkan bahwa tabung gas air mata teroksidasi yang telah kadaluarsa ditemukan di tanah setelah bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina yang berdemo di lingkungan Silwan Timur al-Quds (Yerusalem ) yang menewaskan dua warga Palestina.
Menyusul insiden itu, warga melaporkan adanya gejala kelelahan, demam tinggi, muntah dan sesak napas sementara tenaga pelayanan medis menyatakan bahwa mereka yang terluka dalam insiden itu menampakkan tanda-tanda keracunan.
Seorang bayi berusia 14 bulan juga meninggal karena menghirup gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Israel.

Zahhar: Hanya Perjuangan Bersenjata yang Akan Membebaskan Palestina


Pemimpin Hamas Mahmud Zahhar mengatakan hari Kamis kemarin (9/12) bahwa semua faksi Palestina, termasuk Fatah, harus membentuk sebuah front bersatu dalam perjuangan bersenjata untuk membebaskan semua wilayah bersejarah Palestina.
Zahhar secara pribadi membakar bendera Israel selama konferensi pers singkat di Gaza yang diselenggarakan untuk memperingati 23 tahun berdirinya Hamas.
Dia berkata: "Pendudukan Israel akan berakhir. Dan tidak punya masa depan di antara kita. Prinsip-prinsip bangsa Palestina adalah kita tidak untuk melakukan negosiasi oleh siapapun. Kemanusiaan adalah nilai suci bagi kami serta tanah kami, yang tidak tunduk pada pemilu, atau... referendum, atau kompromi, membeli atau menjual. "
"Kami juga menyerukan bangsa Arab untuk melepaskan rakyatnya untuk mencapai Palestina," katanya. Dia juga mendesak Otorita Palestina di Tepi Barat untuk mengizinkan kelompok "perlawanan" untuk melanjutkan serangan terhadap Israel.
Mengatasi dunia Barat, ia berkata, "Kami bukan musuh Anda, musuh Anda adalah orang yang mengirim tentara ke dalam perang gagal di Libanon, Iran, Somalia, Irak, Afghanistan dan Sudan."
Komentar Zahhar ini kontras dengan pernyataan yang dibuat sebelumnya oleh perdana menteri yang berafiliasi dengan Hamas di Gaza, Ismail Haniyah, yang mengatakan gerakan hamas akan menghormati hasil referendum pada penciptaan negara Palestina di Tepi Barat dan Gaza saja.
Haniyeh mengatakan kepada wartawan: "Kami tidak punya masalah dengan mendirikan negara Palestina dengan kedaulatan atas tanah yang diduduki pada tahun 1967, dengan hanya sebuah solusi untuk para pengungsi, termasuk pembebasan semua tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, dan dengan pemilu sebagai satu-satunya cara untuk mengalihkan kekuasaan dari satu pihak kepada pihak lain. "
"Hamas dan pemerintah Palestina akan menghormati hasil referendum apapun," kata Haniyah beberapa waktu lalu.

Abu Sya'ar: General Electric Mendukung Perluasan Pemukiman Ilegal Yahudi


Menteri Palestina urusan agama, Dr Thalib Abu Sya'ar mengecam keras perusahaan Amerika, General Electric yang mendukung dan berpartisipasi dalam proyek permukiman yahudi ilegak di gunung Abu Ghunaim antara wilayah Yerusalem yang diduduki dan Betlehem.
Dr. Abu Sya'ar dalam siaran persnya pada Kamis kemarin (9/12) mengatakan bahwa perusahaan ini (General Electric) bekerja sama dengan perusahaan Ligon Israel dan ambil bagian dalam pembuatan fasilitas pengolahan air limbah di daerah Abu Ghunaim dengan biaya sekitar 30 juta shekel.
Menteri Palestina ini menyatakan kekecewaan yang sangat terhadap apa yang digambarkan sebagai kolusi Zionis-Amerika di mana General Electric terlibat di dalamnya, sembari menekankan bahwa perusahaan ini telah melanggar hukum internasional ketika mengambil langkah tersebut dan mencerminkan permusuhan kepada bangsa Palestina.
Dalam insiden lain, sumber-sumber pers Israel melaporkan bahwa AS menyisihkan dua juta dolar untuk membiayai sistem anti-rudal Israel yang dikenal sebagai Iron Dome yang dimaksudkan untuk mencegat setiap proyektil, misil atau roket yang ditembakkan ke Israel di masa depan.

Israel Berusaha Rusak Infrastruktur Listrik Palestina di Tepi Barat


Israel telah memerintahkan penghancuran infrastruktur listrik di dua desa Palestina di Tepi Barat, namun penduduk desa mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan langkah tersebut dilaksanakan.
Warga Palestina mengatakan mereka akan menantang perintah Israel untuk pembongkaran untuk infrastruktur listrik dan jaringan listrik di desa-desa mereka, di selatan al-Khalil (Hebron).
Kepala dewan desa Rifaya dan al-Deirat, dekat Yatta, di Tepi Barat selatan, telah mengeluarkan perintah Kamis kemarin (9/12) oleh pemerintah Israel untuk pembongkaran garis transformator dan power suply listrik untuk 800 orang di dua desa terpencil, Maan News melaporkan.
Ketua Komite rakyat lokal, Azmi Ash-Sheiyukhi, mengatakan bahwa warga al-Deirat telah membayar untuk transformator listrik tersebut.
Dia juga mengatakan, warga telah merencanakan untuk menentang perintah untuk pembongkaran, yang ia sebut "tidak sah dan ilegal."
Israel sering melakukan pelecehan terhadap warga desa di Tepi Barat selatan dekat Yatta sejak awal 1981. Sebagian besar tanah Palestina telah disita. Saat ini lima permukiman Yahudi ilegal terdapat di daerah itu.
Penjajah Israel telah berulang kali menghancurkan rumah warga Palestina dan telah mengambil alih ternak dan pakan ternak warga Palestina. Bahkan ternak milik warga Palestina ditembak oleh tentara Israel dan pemukim yahudi.

Jihad Islam: Perlawanan adalah Pilihan Rakyat Palestina Bukan Negoisasi


Jihad Islam menegaskan bahwa perlawanan adalah pilihan rakyat Palestina, dan adalah satu-satunya cara untuk menghadapi kebijakan agresi dan pendudukan zionis Israel, dalam rangka membela tempat-tempat suci dan memulihkan hak-hak bangsa Palestina yang dirampas.
Jihad Islam mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Otoritas Fatah di Ramallah harus keluar dari perundingan dengan pendudukan Israel karena hal itu bukan solusi untuk masalah ini, perundingan hanya menambah krisis dan ketergantungan atas babak baru dari penipuan dan disinformasi yang sengaja ditutupi penjajah Zionis yang bersembunyi dibalik krisis untuk melanjutkan proyek-proyek dan skema pendudukan."
Jihad Islam menambahkan bahwa kesatuan bangsa Palestina merupakan prioritas penting dan perlu, dan hal itu merupakan pilar mendasar dari ketabahan bangsa Palestina dan perlawanan serta restorasi persatuan adalah kepentingan terdepan yang harus menjadi tanggung jawab bersama yang sah dan sikap patriotisme tidak menerima penundaan atau ketergantungan dari setiap agenda dari musuh.
Dalam pernyataannya selanjutnya, Jihad Islam menekankan bahwa negosiasi perdamaian adalah seruan yang tidak berguna dan terbukti tidak membuahkan hasil di semua tahapan.

IDF: Hamas Berhasil Meningkatkan Kemampuan Anti-Tank Mereka


Pasukan Pertahanan Israel (IDF) semakin prihatin tentang peningkatan dalam insiden di perbatasan Gaza, khususnya adanya peningkatan kemampuan nyata pejuang Palestina dalam hal senjata anti-tank.
Dini kemarin angkatan udara IDF menyerang tiga sasaran Hamas di Jalur Gaza: menyerang fasilitas penyimpanan senjata di utara dan dua lokasi lainnya di selatan. Tidak ada korban Palestina dilaporkan.
Serangan itu menyusul setelah ada serangan terhadap seorang petugas keamanan di sebuah daerah Eshkol pada Rabu malam dalam serangan mortir dari Jalur Gaza.
Seorang juru bicara IDF mengatakan Israel menganggap Hamas bertanggung jawab atas serangan dari Jalur Gaza, sehingga membalas serangan terhadap instalasi yang dijalankan oleh gerakan tersebut.
Pada hari Selasa lalu, IDF menemukan empat area di mana improvisasi alat peledak telah diletakkan di sepanjang perbatasan dengan Gaza, pejuang Palestina diyakini melakukan hal itu untuk menyerang patroli Israel.
Awal minggu ini secara signifikan pejuang Palestina berhasil merusak sebuah tank Israel dengan menembakkan sebuah rudal anti-tank dari wilayah perbatasan.
Pejuang Palestina telah meningkatkan kemampuan senjata anti-tank mereka lewat penyelundupan dari Semenanjung Sinai di Mesir, kata IDF.
Hamas dan faksi-faksi pejuang yang lebih kecil berusaha untuk meng-upgrade kemampuan senjata anti-tank mereka untuk lebih mampu memperlambat kendaraan militer IDF dalam perlawanan darat.
Selama serangan Gaza Israel dua tahun yang lalu, yang dikenal sebagai Operasi Cast Lead, Hamas merasa sulit untuk mengganggu gerakan tank militer Israel, sehingga pejuang Palestina mengidentifikasi kemampuan anti-tank mereka sebagai tempat kunci untuk perbaikan dalam melakukan perlawanan.
Sumber senior IDF kepada Haaretz mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan yang nyata dalam beberapa pekan terakhir dalam pertempuran di Jalur Gaza, sebagian besar berasal dari upaya pejuang Palestina 'untuk menempatkan alat peledak di dekat pagar perbatasan.

Dua Anak Palestina Kembali Tewas Karena Bom Israel



Dua anak Palestina dilaporkan tewas hari Jumat kemarin dalam ledakan bom yang ditinggalkan oleh tentara Israel selama perang di Gaza. Empat lainnya cedera dalam tembakan Israel di Gaza utara dan selatan.
Adham Abu Salmiya, koordinator media pelayanan medis di Gaza, mengatakan bahwa Muntasir al-Batniji dan Mo'men Hillis, keduanya berusia 16 tahun, tewas di pinggiran Kota Gaza, Shejaeyyah sebagai akibat ledakan bom yang meledak tersisa oleh IOF selama perang terakhir di Gaza dua tahun lalu.
Selain itu, empat warga Palestina, juga dilaporkan terluka kemarin karena tembakan tentara Israel, dua di antaranya adalah 16 tahun dan dua dari mereka berumur awal tahun duapuluhan, tiga dari mereka di Beit Lahia di Jalur Gaza utara dan satu di Khan Younis di Jalur Gaza selatan.

Abu Marzook: Otoritas Palestina Adalah Alat Kepentingan Israel



Dr Mousa Abu Marzook, wakil-kepala biro politik Hamas, mengesampingkan kemungkinan bahwa Mahmoud Abbas akan membubarkan Otoritas Palestina, menggambarkan organisasi yang dipimpin oleh Mahmoud Abbas itu sebagai kepentingan Zionis.
"Pembubaran Otoritas Palestina adalah sesuatu yang tidak ada dalam cakrawala sekarang karena Otoritas Palestina masih merupakan minat utama Israel, bukan dalam kepentingan rakyat Palestina,", kata pejabat Hamas tersebut dalam sebuah wawancaranya pada Kamis malam dengan Al-Jazeera.
Dia menambahkan, "Kami menghadapi pilihan sulit, dan ada pilihan praktis yang harus ditempuh, termasuk menghentikan semua bentuk koordinasi keamanan dengan pendudukan Israel, menghadapi kegiatan permukiman Israel, menghentikan perundingan sia-sia dengan Israel, dan mengandalkan perlawanan sebagai pilihan strategis, selain mendorong negara dan rakyat Arab terus mendukung kepada rakyat Palestina ".
Selain itu, Abu Marzook menjelaskan bahwa fakta-fakta di lapangan membuktikan bahwa Amerika Serikat adalah bukan pihak yang bisa memecahkan masalah Palestina.
"Memang, kemerdekaan nasional Palestina tidak dapat dicapai dengan membawa isu Palestina kepada PBB dan menyatakan secara sepihak atau melalui sebuah negara merdeka yang mungkin memperoleh simpati dan pengakuan dari sejumlah negara di dunia ini," tegasnya.

Abbas, Pemadam Kebakaran Anda Bukan Salahuddin Al-Ayyubi


Mahmoud Abbas kembali mengatakan sesuatu yang patut dipertanyakan. Dalam tragedi kebakaran hutan Carmel, diberitakan bahwa para petugas pemadam kebakaran dari Otoritas Palestina yang dipimpinnya mengirimkan bantuan dengan sigap. Abbas menyebut aksi itu seperti Salahuddin Al-Ayyubi. Bagaimana bisa?
"Adalah tugas kami untuk memberikan bantuan dalam rangka menyelamatkan kehidupan dan lingkungan," kata Abbas dalam upacara di Tepi Barat Sabtu kemarin untuk menghormati petugas pemadam kebakaran Otoritas Palestina yang membantu memadamkan api mematikan di wilayah Carmel. "Anda semuanya melakukan pekerjaan yang besar!" katanya bangga.
"Sejarah Palestina menunjukkan bahwa kami tidak pernah ragu-ragu untuk memenuhi tugas manusiawi kami dalam kasus seperti ini. Salahuddin Al-Ayyubi mengirimkan dokter pribadinya untuk mengobati musuhnya, Raja Richard dari Inggris, yang memimpin perang salib untuk menaklukkan tanah kami," kata Abbas.
"Tetangga kami menderita, dan itu adalah tugas kami untuk memberikan bantuan dalam rangka menyelamatkan kehidupan dan lingkungan," kata pemimpin Palestina. "Kami tidak akan ragu untuk menawarkan bantuan tersebut. Ke Israel atau negara lain."
Menurut Abbas, bantuan yang diberikan kepada Israel juga akan membantu meningkatkan citra Palestina di luar negeri.
Presiden Israel Shimon Peres dan Perdana Menterinya, Benjamin Netanyahu mengirimkan telegram kepada Abbas dan mengucapkan terima kasih kepada Otoritas Palestina karena telah membantu Israel menanggulangi kebakaran hutan yang merenggut nyawa 43 orang itu.

Tembakan Tank Israel Tewaskan Dua Warga Gaza


Dua warga Palestina tewas oleh mortir tank Israel yang ditembakkan ke Jalur Gaza, pada saat serangan tanpa henti terhadap penduduk sipil di wilayah ini terus berlanjut.
Laporan-laporan mengatakan dua orang tewas di dekat pagar perbatasan, sebelah timur kamp pengungsi al-Bureij, Sabtu malam ketika tank-tank Israel melakukan operasi daerah di Jalur Gaza tengah.
Sebelumnya, pasukan Israel menembak dan melukai tiga warga Palestina, salah satu dari mereka seorang remaja, di Jalur Gaza utara.
Warga Palestina dilaporkan mengumpulkan kerikil untuk digunakan dalam pekerjaan konstruksi ketika mereka mendapat serangan dari pasukan Israel.
Sembilan warga Palestina tewas dan 71 menderita luka-luka oleh tentara Israel pada saat mengumpulkan bahan konstruksi di dekat perbatasan Gaza pada tahun 2010.
Dalam blokade yang dijatuhkan oleh Israel selama lebih dari tiga tahun, warga Gaza dilarang mengimpor bahan bangunan yang mereka butuhkan untuk rekonstruksi rumah, kantor, dan infrastruktur yang hancur selama perang Israel terhadap Jalur Gaza.

Syaikh Raid Shalah Akhirnya Dibebaskan Zionis Israel


Pemimpin faksi Gerakan Islam Palestina, Syaikh Raid Shalah, telah dibebaskan dari penjara Israel, setelah menghabiskan lima bulan di balik jeruji besi.
Ratusan orang berkumpul di kota Umm al-Fahm di distrik Haifa untuk menyambut kebebasan Syaikh Shalah pada hari Ahad kemarin (12/12).
Syaikh Shalah tinggal di wilayah Israel pusat dan memimpin cabang utara Gerakan Islam Palestina yang memiliki ribuan pengikut. Dirinya terkenal karena sikap anti-Israelnya.
Syaikh Shalah dipenjara oleh tentara Israel pada bulan Juli 2010 atas tuduhan dugaan meludah kearag polisi Israel selama demontrasi di dekat Masjid Al-Aqsha di Timur al-Quds (Yerusalem).
Namun Syaikh Shalah membantah tuduhan tersebut.
Berbicara sebentar kepada para pendukungnya, Syaikh Shalah mengatakan pada hari Ahad kemarin bahwa ia adalah korban "penganiayaan politik" atas pembelaannya terhadap Masjid Al-Aqsha - situs Islam tersuci ketiga.
Dalam beberapa tahun terakhir, Israel telah terus-menerus berusaha untuk merobohkan Masjid Al-Aqsha melalui penggalian dan penggalian terowongan di bawah komplek masjid Al-Aqsha.
Hal ini telah mengakibatkan kecaman seluruh dunia dan lokal, dengan al-Quds berubah menjadi tempat beberapa tindakan kekerasan selama setahun terakhir.
Sementara itu al-Quds sendiri telah dijanjikan sebagai ibukota masa depan negara Palestina, namun Israel mengklaim sebagai ibukota negara mereka sendiri pada masa depan.
Sisi timur kota itu diduduki dan dicaplok oleh Tel Aviv secara terang-terangan melanggar hukum internasional selama Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967.
Sejak saat itu, Israel telah melakukan pendudukan ilegal pada bagian kota dan telah berusaha keras untuk melakukan Yahudisasi Yerusalem.
Di antara upaya tersebut keputusan baru yahudisasi mereka adalah untuk membuka kembali sinagog Hurva yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Masjid Al-Aqsha dan proyek ilegal untuk memperluas pemukiman Yahudi di wilayah Palestina yang diduduki.

Israel Buang Limbah Kimia Berbahaya ke Wilayah Tepi Barat


Pabrik Israel diam-diam telah melakukan pembuangan limbah industri yang berbahaya dari industri polusi di kota Tulkarm, Tepi Barat, gubernur kota tersebut mengatakan.
Langkah Israel itu terungkap pada November lalu ketika pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) menyita satu truk limbah kimia, yang berasal dari pabrik-pabrik Israel, yang akan dikosongkan di lapangan Khaduri University, Talal Dweikat mengatakan
Pejabat PA mengatakan bahwa warga Palestina dipekerjakan untuk pekerjaan 'kotor' tersebut, lapor kantor berita Ma'an pada hari Ahad kemarin (12/12).
Limbah itu telah diperiksa di laboratorium PA dan ditemukan bahwa limbah tersebut merupakan limbah yang berbahaya.
Pasukan PA ditempatkan dalam siaga tinggi untuk memeriksa setiap truk Israel, yang tiba di Tulkarm, untuk mencegah masuknya limbah bahan berbahaya.
Sementara itu, Presiden Universitas Daoud Az-Za'tery mengatakan universitas telah menyelenggarakan kursus kesadaran untuk mendidik para mahasiswa peduli pada bahan berbahaya.
Dia mencatat bahwa banyak keluhan telah diterima dari warga Tulkarm tentang limbah kimia yang dibuang di wilayah tersebut oleh pabrik-pabrik Israel.
Beberapa wilayah kota-kota Tepi Barat yang diduduki telah menjadi "tempat sampah" untuk limbah industri Israel - termasuk limbah beracun - sehingga menaikkan gejala kanker hingga 10 kali lipat, menurut dokter lokal Palestina.
Laporan lain mengatakan setidaknya ada tujuh zona industri Israel di Tepi Barat yang diduduki dan 200 pabrik diperkirakan berlokasi di sana.
Banyak dari pabrik-pabrik yang dibangun terutama pada puncak-puncak bukit, yang sering mengalirkan air limbahnya ke tanah Palestina sehingga merusak pohon-pohon jeruk, mencemari tanah serta mencemari air tanah.
Sebagai contoh, sebuah pabrik pestisida di Kfar Saba yang menghasilkan polutan berbahaya telah dipindahkan ke daerah dekat Tulkarm.
Pabrik industri Israel Gas Dixon, yang terletak di Netanya juga telah dipindahkan ke daerah Tulkarm. Limbah padat yang dihasilkan oleh pabrik dibakar di udara terbuka.

Syaikh Shalah: 5 Bulan di Penjara Israel Merupakan Hari Terbaik Dalam Hidup Saya


Syaikh Ra'id Shalah, ketua Gerakan Islam di tanah pendudukan 1948, menyatakan segera setelah dirinya dibebaskan dari penjara Ramle bahwa lima bulan yang ia habiskan di penjara Israel adalah hari terbaik dalam hidupnya dan menjadi momen surgawi saat dirinya bisa menghabiskan waktu dalam menyembah Allah.
Syaih Shalah berkata bahwa ia mampu menulis tiga buku pada saat berada dalam tahanan Israel dan ia meminta dunia untuk mempertimbangkan kebebasan para tahanan yang terdapat di dalam penjara-penjara Israel termasuk tahanan politik yang harus segera dibebaskan sesuai dengan hukum internasional.
Sedangkan untuk dakwaan lainnya yang akan dilontarkan terhadap dirinya, ia menyatakan tak peduli tentang setiap dakwaan yang ditujukan terhadap dirinya, menegaskan bahwa tekadnya untuk mempertahankan kota suci dan Masjid Al-Aqsha tidak akan rusak oleh tindakan Israel yang berani menangkap dan menahan dirinya.
Syaikh Shalah juga mencatat bahwa ia tetap tidak akan mengakui keputusan militer Israel yang melarang dirinya dari memasuki Masjid Al-Aqsha.

Tank Israel Kembali Lukai Warga Gaza


Sebagai langkah Israel dalam melakukan serangan terhadap warga Palestina, tembakan dari tank Israel telah kembali melukai dua pemuda Palestina di Jalur Gaza utara, kata sumber medis Palestina.
Serangan terjadi di barat laut Beit Lahiya pada hari Senin kemarin (13/12), kata jurubicara pelayanan kesehatan Adham Abu Selmiya kepada AFP.
Sebelumnya pada hari Sabtu lalu, dua warga Palestina tewas dalam tembak-menembak dengan tentara Israel di Gaza tengah. Seorang tentara Israel terluka dalam insiden tembak menembak tersebut.
Tentara Israel telah meningkatkan serangan mereka terhadap rakyat Gaza yang diblokade selama seminggu terakhir.
Israel memberlakukan blokade melumpuhkan terhadap Gaza pada tahun 2007, menempatkan warga Gaza ke dalam situasi ekonomi yang sulit dan dapat mempengaruhi kondisi hidup mereka di wilayah pesisir.
Tel Aviv juga melarang impor bahan bangunan yang diperlukan warga Palestina untuk membangun kembali rumah, kantor, dan infrastruktur yang hancur selama serangan Israel terhadap Jalur Gaza.

Netanyahu: Membagi Yerusalem Dengan Rakyat Palestina Bukan Kebijakan Israel



Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pada hari Minggu kemarin menolak untuk membagi kota Yerusalem dengan Palestina.
Netanyahu tampaknya sengaja berseberangan dengan Menteri Pertahanan-nya sendiri Ehud Barak yang menyatakan untuk membagi Yerusalem antara Yahudi dan rakyat Palestina.
Netanyahu mengatakan bahwa hal itu tidak mencerminkan kebijakan pemerintahnya.
Netanyahu menjelaskan bahwa pidato Ehud Barak sehubungan ide membagi dua Yerusalem pada akhir pekan adalah statemen Barak sebagai ketua Partai Buruh dan bukan sebagai wakil pemerintah, demikian Radio Israel melaporkan.
Yerusalem selama ini sudah menjadi sengketa besra. Yahudi membangun permukimannyanya di sini dan bermaksud menjadikannya sebagai ibukota Israel. (sa/degganchronicle)

Doha Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional Pertahanan Yerusalem 2011


Konferensi Internasional Pertahanan Yerusalem 2011 akan diselenggarakan di Doha, konferensi telah menunjuk koordinator umum acara, kata Muhammad Subaih mengatakan kepada media di Kairo hari Senin kemarin (13/12).
Lebih dari 400 pejabat tinggi dari lebih dari 60 negara akan bertemu di sana akhir Januari tahun depan untuk membahas status hukum dari Yerusalem dan bagaimana cara mempertahankan kota suci tersebut dari pendudukan Israel.
Beberapa anggota dari Liga Arab akan bertemu dengan pejabat di Qatar pada tanggal 21 Desember untuk melakukan pengaturan yang diperlukan untuk acara konferensi yag rencananya berlangsung selama tiga hari.
Persiapan untuk konferensi dalam dukungan penuh pada saat Liga Arab dan misi asing melakukan kontak dengan masyarakat politik dunia, ilmiah, dan akademis untuk mengambil bagian dan memberikan literatur yang mengandung empat titik fokus yang akan dibahas dalam konferensi tersebut.
Menariknya, pada tahun 2022 Doha Qatar akan menjadi tuan rumah perlehatan piala Dunia, yang bertolak belakang dengan konferensi ini. Karena dalam Piala Dunia 2022 nanti, Qatar harus mengakui entitas Zionis Israel sebagai peserta piala dunia.

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme