Innalillahi, Ahmadinejad Menghina Dua Sahabat Rasul!


Di tengah eforia kemenangannya dalam pemilu Iran yang baru saja digelar, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad saw.
Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.
Seperti yang diketahui, Iran yang berbasis Syiah ini—salah satu aliran Islam yang dianggap menyimpang—sudah sejak lama mempersempit ruang gerak para jamaah ahli Sunnah (kaum Sunni). Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, bahkan para jamaah Sunni mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Rafidi Khomeini.
Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”
Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.
Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad sudah sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Bahkan, pendahulu Ahmadinejad, Rafidi menghina dan menganggap remeh alias menyepelekan 90% Muslim seluruh dunia.
Namun demikian, masih banyak juga pihak atau pengagum Rafidi dan pengingkar sahabat Rasul lainnya seperti Ahmadinejad ini. Mereka adalah orang yang tidak menyadari gerakan Syiah atau mereka yang tak mau memahami rejim 12 Imam ini yang merupakan musuh terbuka terhadap para sahabat Rasul.

Berdebat Dengan Munafiq


Oleh Reza Pratama
Beberapa kali mungkin kita terjebak dalam debat. Kadang malah terlihat tak berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina, bahkan tak jarang kata-kata kasar terlontar. Baru saja, sebelum menuliskan catatan singkat ini, saya membaca tulisan seorang saudara di akun twitternya.
Darinya, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini terkait sikap seorang da’i dalam menghadapi orang-orang munafiq. Allah berfirman,
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh". (QS al A'raaf 199)
Mengomentari ayat ini, Sayyid Quthb, dalam Zhilal, berkata, " Inilah arahan-arahan rabbaniyah di dalam menghadapi kejahiliyahan yang sangat buruk, di dalam menghadapi kemanusiaan yang tersesat. Arahan rabbani menyeru da'i untuk berlapang dada dan toleran. Juga supaya menyampaikan perintah dengan jelas untuk melakukan kebaikan yang sudah dikenal oleh fitrah manusia dengan lapang dengan tidak mempersulit dan tidak memperberat. Juga supaya ia berpaling dari tindak kejahiliyahan, dengan tidak menjatuhkan hukuman pada mereka, tidak mengajaknya/melayaninya berdebat, dan tidak ikut bersama-sama mereka", ujarnya.
Apabila mereka melampaui batas dan menimbulkan kebencian dengan keras kepala dan menghalang-halangi, dan setan mengembuskan kebencian itu, maka hendaklah seorang da'i memohon perlindungan pada Allah agar hatinya tenang, tenteram, dan bersabar.
Sementara itu, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, berkata, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dia menceritakan sebuah kisah mengenai umar ketika salah satu tamunya membuatnya marah. Maka al Hur bin Qais berkata padanya, “Yaa amiral mu'minin, sesungguhnya Allah ta'ala berfirman pada nabi, 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah dengan ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh'.”
Ibnu Jarir berkata bahwa sesungguhnya nabi telah memerintahkan agar dia menyuruh pada yang ma'ruf pada hamba-hambanya. Termasuk dalam yang ma'ruf itu adalah segala ketaatan, dan menyuruh berpaling dari orang-orang yang bodoh...
Mari tetap bersikap dingin menghadapi orang-orang munafiq. Sebab, Allah berkata bahwa memang seperti itulah tabiat mereka. Mereka akan tetap bersikap seperti itu hingga mereka mau mengubah apa yang ada dalam dirinya, yang kemudian berakibat pada turun tangannya Allah dalam mengubah hatinya, dalam mengubah sikapnya.
"Dan jika dikatakan pada mereka, "Marilah (kembali) pada apa yang diturunkan oleh Allah dan kepada rasulnya." kamu pasti akan melihat orang2 munafiq itu menghalang2i kamu dengan keras". (QS an Nisaa' 61)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada dalam qaum itu, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka". (QS ar Ra'd 13)
Menghadapi mereka, Allah memerintahkan kita untuk memberikan "qaulan baliigha" pada mereka.
"Mereka itu adalah orang2 yang Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Krn itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah pada diri mereka qaulan baliigha (perkataan yang membekas)". (QS an Nisaa' 63)
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan qaulan baliigha itu? Untuk lebih mudahnya, mari kita simak nasihat Syaikh Utsaimin berikut ini. Beliau, dalam ash Shohwatul Islamiyyah, berkata bahwa bashirah, khususnya dalam da'wah itu ada tiga: pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah.
Yang pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Pengetahuan atau penguasaan atas ilmu. Yang ini jelas merupakan syarat da’wah pertama. Tidak perlu saya jelaskan lagi lebih jauh. Sebab apa lagi yang akan dijelaskan oleh seorang da’i selain ilmu mengenai Islam? Bukankah mereka yang tak memiliki sesuatu tak dapat memberikan sesuatu?
Mengenai hal ini, Syaikh Utsaimin berkata, Sebagian orang menghukumi sebagian perkara yang bukan merupakan kewajiban sebagai perkara yang wajib; dibangun dengan ijtihad yang keliru, ta’wil, dan syubhat yang tiada dasarnya. Apalagi menjadikan hal tersebut sebagai tolok ukur wala’ dan bara’! Apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat dengannya, ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri telah menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Namun, apabila pendapat seseorang sesuai dengan pendapatnya, ia pun mencintainya.
Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Pengetahuan atas objek da’wah. Hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berda’wah di Yaman. Saat itu, beliau bersabda, Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. (Muttafaqun ‘alaih)
Kata-kata ini tentu bukan tanpa maksud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan kita mengetahui objek da’wah sebelum berda’wah padanya. Kita patut mengetahui tingkat ilmunya, kemampuannya dalam diskusi maupun debat, dan sebagainya, supaya kita kemudian mampu mengambil hatinya dan mengajaknya pada Islam. Asy Syaikh kemudian mengutip sebuah hadis berikut, Sesungguhnya kalian akan saling mengalahkan di hadapanku, dan sebagian kalian lebih cerdas dalam mengemukakan pendapat daripada sebagian yang lain. Maka aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang kudengar. Barangsiapa yang mengajukan perkara demi mengambil hak saudaranya, janganlah diambil. Sesungguhnya barangsiapa yang berhenti dari hal itu, terputuslah api neraka baginya. (Muttafaqun ‘alaih)
Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah. Pengetahuan atas da’wah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal mereka masing-masing". (HR. Muslim).
Ini penting, sebab tidak semua manusia memiliki standar yang sama dalam menilai perkataan orang lain. Bisa jadi, karena kita membaca al Quran dan mendapati nabi Ibrahim yang merupakan khalilullah itu sampai menyebut ummatnya sesat dengan perkataan yang jelas itu (QS 21:54), lantas kita berbuat hal yang sama.
Perlu kita perhatikan kultur masyarakat yang berkembang. Jelas berbeda kultur masyarakat nabi Ibrahim dengan kultur masyarakat kita, meski model ma’shiyatnya sama saja. Sama-sama kesyirikan yang jadi masalah. Jelas berbeda kultur masyarakat Arab zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan budaya masyarakat Indonesia saat ini. Dahulu, ada sebuah qabilah yang nyaman saja disebut “bani kalb”. Tapi tentu itu tak tepat bila sebutan itu disematkan—dengan alasan apa pun—pada penduduk Indonesia. Dahulu ada sahabat yang lazim dipanggil Abu Hurairah. Tak pas pula rasanya bila panggilan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kemudian kita sematkan pada tetangga kita yang menyukai kucing.
Untuk itu, Rasul kemudian memerintahkan kita untuk berbicara—dalam rangka berda’wah, tentu—menurut kadar akal objek da’wah. Semata supaya pesan da’wah ini tak tertinggal. Supaya maksud besarnya tak terpotong.
Ada sebuah kekhawatiran dari dalam diri saya melihat da’i yang mengabaikan rambu-rambu ini: akan ada perdebatan-perdebatan tak berkualitas yang secara perlahan tapi pasti akan menurunkan izzah para da’i di mata mad’unya. Akibatnya, belum satu kalimat terlontar dari lisan kita, keengganan mereka sudah muncul terlebih dahulu. Jadilah niat kita untuk berda’wah tak terlaksana.
Syariat ini perlu disampaikan. Salah satu wasilahnya adalah dengan cara beradu argumen (QS 16:125). Berdebat, dengan kata lain. Di sisi lain, kita mudah menjumpai ayat maupun hadis yang berisi anjuran untuk meninggalkan debat. Apalagi bila debat itu mempertanyakan hukum atau syariat Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran mereka sekali-sekali tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan pada Allah. Sesungguhnya Ia maha mendengar lagi maha melihat. (QS al Mu’min 56)
Namun, sekali lagi, penguasaan kita terhadap medan da’wah diuji di sini, di mana kita harus menempatkan diri kita di posisi pertengahan. Lembut dalam berda’wah memang dianjurkan. Tapi jelas tidak untuk setiap saat dan tempat. Serupa debat Ibrahim ‘alaihissalam muda dengan Namrudz. Atau seperti argumen-argumen Musa ‘alaihissalam di hadapan Fir’aun.
"Janganlah kamu mengikuti orang2 yang mendustakan ayat2 Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (juga) padamu". (QS al Qalam 8-9)

Bukan Hanya Islam yang Membolehkan Poligami


Poligami bukan praktik yang terbatas pada agama Islam, tetapi telah dikenal dalam sejarah Ahli Kitab, orang-orang Yahudi dan Kristen. Hanya saja di akhir zaman, para agamawan mereka melarang begitu. Namun, ketika kita melihat ke sejarah awal agama, kita akan menemukan bahwa politigami merupakan praktek yang dapat diterima, jika tidak didorong.
Poligami dalam Yudaisme
Poligami ada di antara bangsa Israel sebelum zaman Musa. Mereka tidak membatasi jumlah perkawinan yang bisa dilakukan seorang suami.
Mari kita lihat beberapa ayat dari Perjanjian Lama yang membolehkan poligami. Dalam kitab Keluaran 21:10, seorang pria dapat menikah dengan wanita tanpa batas. Dalam kitab Samuel 5:13; 1 Tawarikh 3:1-9, 14:3, Raja Daud memiliki enam istri dan sejumlah selir. Dalam Raja-raja I ayat 11:3, Raja Salomo mempunyai 700 istri dan 300 selir. Dalam Tawarikh II 11:21, Salomo putra Raja Rehabeam mempunyai 18 istri dan 60 selir. Dalam kitab Ulangan 21:15 “Apabila seorang mempunyai dua orang isteri , yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintainya, dan mereka melahirkan anak-anak lelaki baginya, baik isteri yang dicintai maupun isteri yang tidak dicintai, dan anak sulung adalah dari isteri yang tidak dicintai.”
Ada lebih banyak ayat dari Perjanjian Lama yang membolehkan poligami.
Encyclopedia Yahudi menyatakan: “Sementara tidak ada bukti tentang poliandri primitif di tengah masyarakat Yahudi, poligami tampaknya telah menjadi lembaga mapan, berasal dari masa yang paling kuno dan modern yang relatif bertahan hingga hari ini.”
Praktek umum lainnya adalah mengambil selir. Di kemudian hari, Talmud Yerusalem membatasi sesuai kemampuan suami untuk menjaga istri dengan baik. Namun beberapa rabi menasihati bahwa seorang laki-laki tidak boleh lebih dari empat istri. Poligami dilarang dalam Yudaisme oleh para rabbi, bukan Tuhan.
Rabbi Gershom ben Yehuda terbilang orang yang melarang poligami pada abad ke-11. Namun poligami masih dipraktikkan di antara 180.000 Israel nomad. Ia juga sering terjadi di antara orang-orang Yahudi yang tinggal di Yaman, dimana rabi mengizinkan orang Yahudi untuk menikah hingga empat istri. Dalam Israel modern, di mana seorang istri tidak dapat melahirkan anak atau secara mental sakit, para rabi memberikan suami hak untuk menikahi wanita kedua tanpa menceraikan istri pertamanya.
Poligami dalam Agama Kristen:
Sejarah mengatakan bahwa poligami dipraktekkan di kalangan orang Kristen, tampaknya ada beberapa resolusi yang menghentikannya. Pada abad kedelapan Charlemagne memegang kekuasaan atas gereja dan negara, dan ia sendiri mempraktekkan poligami. St Agustinus tampaknya telah mengamati bahwa di dalam poligami tidak ada unsur percabulan atau dosa, dan menyatakan bahwa poligami itu bukan suatu kejahatan.
Dalam buku The Good of Marriage (pasal 15, ayat 17), ia menyatakan bahwa poligami itu sah dilakukan para uskup di masa lalu.” Dia menolak untuk menghakimi para leluhur, tapi tidak menyimpulkan dari praktek mereka untuk menerima poligami. Selama Reformasi Protestan, Martin Luther berkata, "Aku akui bahwa jika seorang pria ingin menikah dua istri atau lebih, saya tidak bisa melarang karena hal itu tidak bertentangan dengan Kitab Suci.”
Gereja-gereja Afrika telah lama mengakui poligami. Di awal sejarahnya, The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints mempraktikkan poligami di Amerika Serikat. Ada beberapa kelompok murtad yang meninggalkan gereja setelah gereja melarangnya. Poligami di antara kelompok-kelompok ini tetap berlangsung hingga hari ini di Utah, juga di negara-negara tetangga, maupun di antara individu yang terisolasi dari afiliasi gereja dan tidak terorganisir.
Menurut Pastur Eugene Hillman, “Dalam Perjanjian Baru tidak ada perintah eksplisit bahwa perkawinan harus monogami, ataupun perintah eksplisit yang melarang poligami.” Gereja di Roma melarang poligami dalam rangka untuk menyesuaikan diri dengan budaya Yunani-Romawi yang mengajarkan monogamis di satu sisi, namun mengesahkan pergundikan dan pelacuran di sisi lain.
Dalam Alkitab, Yesus tidak pernah menolak ajaran lama, bahkan ia mengatakan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17-18).

Pedang dan Penyebaran Islam



Sejak hari-hari ketika kaisar Romawi Kristen untuk melemparkan singa-singa, hubungan antara kaisar dan kepala-kepala gereja telah mengalami banyak perubahan. Konstantinus Agung yang menjadi kaisar pada tahun 306 - tepatnya 1700 tahun lalu - mendorong praktik kekristenan di kekaisaran, termasuk Palestina. Pada abad-abad berikutnya, gereja terpecah menjadi Timur (Ortodoks) dan Barat (Katolik). Di Barat, Uskup Roma, yang mendapat gelar Paus, menuntut kaisar menerima superioritas.
Pertikaian antara kaisar dan para paus memainkan peranan sentral dalam sejarah Eropa dan memecah belah rakyat. Pertikaian tersebut mengalami pasang surut. Beberapa kaisar diberhentikan atau digulingkan oleh paus, sementara beberapa paus diberhentikan atau dikucilkan kaisar. Salah seorang kaisar, Henry IV, "berjalan ke Canossa", berdiri selama tiga hari tanpa alas kaki di salju di depan istana Paus, sampai Paus berkenan untuk membatalkan ekskomunikasi-nya.
Tapi ada saat-saat kaisar dan paus hidup dalam damai satu sama lain. Kita menyaksikan periode seperti hari ini. Antara Paus sekarang, Benediktus XVI, dan kaisar sekarang, George Bush II, terdapat sebuah harmoni indah. Seperti terungkap dalam pidato Paus yang membangkitkan badai seluruh dunia, berjalan seiring dengan perang salib Bush terhadap "Islamofascism", dalam konteks "benturan peradaban".
Dalam ceramahnya di sebuah universitas Jerman, Paus Ke-265 menjelaskan apa yang ia lihat sebagai sebuah perbedaan besar antara Kristen dan Islam: sementara Kristen didasarkan pada akal, Islam menolak itu. Sementara Kristen melihat logika tindakan Tuhan, umat Islam menyangkal bahwa ada suatu logika dalam tindakan-tindakan Allah.
Dalam rangka untuk membuktikan ketiadaan logika dalam Islam, Paus menyatakan bahwa Nabi Muhammad memerintahkan para pengikutnya untuk menyebarkan agama mereka dengan pedang. Menurut Paus, yang tidak masuk akal, karena iman lahir dari jiwa, bukan dari tubuh. Bagaimana pedang dapat mempengaruhi jiwa?
Untuk mendukung hal ini, Paus mengutip dari seorang kaisar Byzantium. Pada akhir abad ke-14, Kaisar Manuel II Palaeologus bercerita tentang sebuah perdebatannya dengan seorang sarjana Muslim Persia tidak disebutkan namanya. Dalam argumen yang panas, sang kaisar (menurut dirinya sendiri) melemparkan kata-kata berikut kepada lawan:
“Tunjukkan pada saya hanya apa yang dibawa Muhammad yang masih baru, dan di sana Anda akan menemukan perbuatan jahat dan tidak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan keyakinan dengan pedang.
Pernyataan ini menimbulkan tiga pertanyaan: (a) Mengapa kaisar tersebut mengatakan demikian? (b) Apakah pernyataannya ini benar? (c) Mengapa Paus yang sekarang mengutipnya?
Ketika Manuel II menulis bukunya, ia adalah kepala kekaisaran yang hampir runtuh. Dia menganggap kekuasaan di 1391 hanya tinggal beberapa provinsi. Itu pun sudah di bawah ancaman Turki. Pada waktu yang sama, Turki Utsmani telah mencapai tepi sungai Donau. Mereka telah menaklukkan Bulgaria dan bagian utara Yunani, dan telah dua kali mengalahkan pasukan yang dikirim oleh Eropa untuk menyelamatkan Kekaisaran Romawi Timur.
Tanggal 29 Mei 1453, hanya beberapa tahun setelah kematian Manuel, ibukotanya, Konstantinopel (sekarang Istanbul), jatuh ke Turki, dan berakhirlah kerajaan yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun.
Selama masa pemerintahannya, Manuel berkeliling Eropa dalam usaha untuk menghidupkan dukungan. Dia berjanji untuk mempersatukan kembali gereja. Ada kecurigaan bahwa ia menulis risalah agama untuk mendorong negara-negara Kristen melawan Turki dan meyakinkan mereka untuk memulai perang salib baru. Tujuannya adalah praktis, teologi melayani politik.
Dalam pengertian ini, kutipan tersebut persis seperti pernyataan George Bush II. Dia juga ingin menyatukan dunia Kristen untuk melawan Islam yang disebutnya “Poros Setan”. Selain itu, Turki lagi-lagi mengetuk pintu Eropa, kali ini secara damai. Sudah umum diketahui bahwa Paus mendukung kekuatan-kekuatan sahabat dengan masuknya Turki ke dalam Uni Eropa.
Apakah ada kebenaran dalam argumen Manuel?
Paus sendiri menyampaikannya dalam bentuk peringatan. Sebagai seorang teolog yang serius dan ternama, ia tidak mampu memalsukan teks-teks tertulis. Oleh karena itu, dia mengakui bahwa Al-Quran secara khusus melarang penyebaran iman dengan kekerasan. Dia mengutip surat Al-Baqarah ayat 257 yang mengatakan: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)."
Bagaimana seseorang dapat mengabaikan pernyataan tegas seperti itu? Paus hanya berpendapat bahwa perintah itu telah diletakkan oleh Nabi pada awal kenabian, masih lemah dan tak berdaya. Tapi kemudian ia memerintahkan penggunaan pedang dalam menyampaikan akidah.
Perintah semacam itu tidak ada dalam Alquran. Benar, Muhammad menyerukan penggunaan pedang dalam perang melawan suku-suku yang berlawanan - Kristen, Yahudi dan lain-lain - di Arabia, ketika ia membangun negara. Tapi itu adalah tindakan politik, bukan agama; dasarnya adalah pertarungan memperebutkan wilayah, bukan untuk penyebaran Islam.
Yesus berkata: "Kamu akan mengenali mereka dari buah-buahan." Perlakuan Islam terhadap agama-agama lain harus dinilai dengan sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana penguasa Muslim berperilaku selama lebih dari seribu tahun, ketika mereka memiliki kekuasaan untuk "menyebarkan iman dengan pedang"?
Selama berabad-abad umat Islam menguasai Yunani. Apakah orang-orang Yunani menjadi Muslim? Apakah ada yang mencoba untuk mengislamkan mereka? Sebaliknya, orang Yunani Kristen memegang posisi tertinggi di pemerintahan Ottoman. Bulgaria, Serbia, Rumania, Hongaria dan negara Eropa lainnya hidup di bawah kekuasaan Ottoman dengan berpegang teguh doktrin agama Kristen mereka. Tidak ada yang memaksa mereka untuk menjadi Muslim dan mereka semua tetap taat Kristen.
Benar, orang-orang Albania memeluk Islam, dan begitu pula orang-orang Bosnia. Tapi tak seorang pun berpendapat bahwa mereka melakukan ini di bawah tekanan.
Tahun 1099, Tentara Salib menaklukkan Yerusalem dan membantai penduduk Muslim dan Yahudi tanpa pandang bulu, dalam nama Yesus yang lembut. Pada waktu itu, 400 tahun Palestina di bawah kekuasaan Muslim, Kristen masih mayoritas di negeri ini. Selama periode panjang ini, tidak ada upaya untuk memaksakan Islam pada mereka. Hanya setelah pengusiran Pasukan Salib dari negeri, apakah mayoritas penduduk mulai mengadopsi bahasa Arab dan keyakinan Muslim - dan mereka adalah nenek moyang sebagian besar orang Palestina hari ini.
Tidak ada bukti apapun dari setiap upaya untuk memaksakan Islam pada orang Yahudi. Seperti diketahui, di bawah kekuasaan Islam orang-orang Yahudi Spanyol menikmati kebebasan, sesuatu yang tidak dinikmati orang-orang Yahudi di tempat lain hingga hari ini. Penyair seperti Yehuda Halevy menulis dalam bahasa Arab, seperti juga Maimonides besar. Di masa Spanyol Islam, banyak orang Yahudi yang menjadi menteri, penyair, dan ilmuwan. Di masa Islam berkuasa di Toledo, orang-orang Kristen, Yahudi dan Muslim bekerja-sama menerjemahkan filsafat Yunani kuno dan teks-teks ilmiah. Itu adalah masa keemasan. Bagaimana ini mungkin terjadi seandainya Nabi menyerukan Islam dengan pedang?
Apa yang terjadi setelah itu bahkan lebih kuat indikasinya. Ketika Katolik merebut kembali Spanyol dari kaum Muslim, mereka menerapkan politik teror keagamaan. Orang-orang Yahudi dan Muslim diberi pilihan yang sulit: menjadi Kristen, atau dihukum mati, atau hengkang dari Spanyol. Dan kemana ratusan ribu Yahudi yang menolak untuk meninggalkan agama mereka itu melarikan diri? Hampir seluruhnya diterima dengan tangan terbuka di negara-negara Muslim. The Sephardi Jews (orang-orang Yahudi Spanyol) menetap di seluruh dunia Muslim, dari Maroko di Barat hingga Irak di Timur, dari Bulgaria (saat itu bagian dari Kekaisaran Ottoman) di utara sampai Sudan di selatan.
Mereka tidak mengenal sama sekali siksaan seperti Inkuisisi, api auto-da-fe, the pogrom, pengusiran massal yang mengerikan seperti terjadi di hampir seluruh wilayah Kristen, hingga Holocaust. Mengapa? Karena Islam secara tegas melarang setiap penganiayaan terhadap Ahli Kitab. Dalam masyarakat Islam ada tempat khusus yang disediakan untuk orang-orang Yahudi dan Kristen. Mereka tidak menikmati hak-hak yang sepenuhnya sama, tapi hampir. Mereka harus membayar pajak khusus, tetapi dibebaskan dari dinas militer.

Isyarat Al-Qur'an Tentang Atmosfir




Studi modern memberi bukti penting bahwa atmosfer pada sabuk Allen memainkan peran penting dalam melestarikan dan mempertahankan kehidupan.
Atmosfer menjaga suhu cuaca di sekitar rentang normal. Untuk memikirkan betapa besar nikmat ini, kami mengambil bulan sebagai contoh; suhu satu sisi bulan adalah lebih dari seratus derajat, sementara suhu di sisi lain adalah seratus derajat di bawah nol. Planet terdekat dengan matahari mengalami masalah yang sama. Sebagian besar planet tidak memiliki atmosfer, atau atmosfes yang kurang kepadatannya, sehingga sebagai akibatnya mereka menjadi sasaran meteor berat, ledakan energi destruktif dari matahari dan radiasi yang dipancarkan dari matahari dan bintang lainnya.
Semua planet terhujani meteor kecuali bumi, kecuali beberapa kali saja, dan biasanya sangat kecil yang menembus atmosfer yang mencegah banyak mencapai bumi.
Namun, jika sebuah objek cukup besar maka ia dapat tetap meluncur melalui atmosfer. Kerusakan yang ditimbulkan oleh sebuah meteorit (sebuah benda yang menyerang bumi) tergantung pada ukuran awal. Obyek dengan rentang ukuran 10-100 m dapat menghasilkan kehancuran mirip dengan ledakan atom. Efek kerusakan sangat parah, menghancurkan bangunan, dan bahan yang mudah terbakar menyebabkan api meluas.
Radius efeknya bervariasi tergantung pada ukuran dan komposisi dari obyek, tapi setidaknya berjarak 10 km. Peristiwa Tunguska pada tahun 1908 di Siberia diduga akibat sebuah objek dengan ukuran sekitar 60 m. Ia menyebabkan pohon-pohon radius 20 km rata dengan tanah, dan pohon-pohon radion 40 km rusak. Obyek dengan volume sekitar 10 m menyerang mumi kira-kira sekali dalam satu dekade. Untungnya, hanya benda padat yang mengandung besi, yang mendarat di bumi. Sementara sebagian besar objek dengan ukuran seperti ini meledak di atmosfer sehingga tidak ada efek (selain mungkin suara keras) di bumi. Obyek dengan ukuran yang sedikit lebih besar darinya diperkirakan menghantan bumi beberapa kali dalam milenium atau sekitar setiap 100 -200 tahun.
Obyek dengan diameter 100 m - 1 km bisa menyebabkan kerusakan parah pada kawasan regional, atau sebesar benua. Jika benda tersebut menyerang bumi, mereka hampir pasti menghasilkan kawah, memicu samudra untuk menghasilkan gelombang pasang yang sangat besar. Sebuah objek dengan ukuran 150 m. dapat menghasilkan kawah berdiameter 3 km, selimut ejecta berdiameter 10 km diameter, dan memperluas zona kehancuran lebih jauh keluar. Benda dengan ukuran 1 km menimbulkan zona kehancuran yang mungkin seluas satu negara. Korban tewas bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta. Impactor dengan ukuran 1 km bisa menimbulkan dampak global, termasuk pendinginan global yang disebabkan oleh sejumlah besar debu di atmosfer.
Perkiraan dari catatan geologi menunjukkan bahwa kawah terbentuk di bumi kira-kira sekali dalam tiap 5.000 tahun. Obyek dengan ukuran 1-10 km dapat menyebabkan efek global parah (kepunahan spesies). Dampak pada 65 juta tahun yang lalu akibat sebuah objek dengan diameter 5 - 10 km diperkirakan menjadi penyebab—sebagian atau seluruhnya—kepunahan setengah hidup spesies hewan dan tanaman pada waktu itu, termasuk dinosaurus. Kawah yang ditimbulkan menjadi 10-15 kali lebih besar daripada benda itu sendiri. Kegagalan panen di seluruh dunia akibat debu yang diterbangkan ke atmosfir dapat membahayakan peradaban.
Jadi, benda dengan ukuran lebih besar dari itu bisa membuat spesies manusia punah. Frekuensi hantaman benda-benda meteor ke bumi dapat dianalisa dari geologi dan catatan paleontologis. Benda dengan rentang ukuran yang terakhir diperkirakan terjadi kira-kira setiap 300.000 tahun. Sedangkan obyek dengan ukuran lebih dari itu terjadi sekitar setiap 10 juta tahun.
Atmosfer juga mencegah suhu fatal alam semesta (kira-kira 270 di bawah nol) agar tidak mencapai bumi. Ia juga mencegah radiasi fatal yang dipancarkan dari matahari dan bintang-bintang yang dapat menghancurkan sel hidup. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan sinar yang tak berbahaya dan bermanfaat, seperti sinar ultraviolet dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet, yang hanya sebagiannya lolos atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup.
Energi yang dilepaskan dalam sebuah ledakan Matahari begitu kuat sehingga pikiran manusia tidak akan memahaminya: Sebuah ledakan tunggal setara dengan 100 milyar bom atom yang serupa dengan yang dijatuhkan di Hiroshima. Dunia ini dilindungi dari efek destruktif energi ini dengan atmosfer dan Sabuk Van Allen.
Dr. Hugh Ross berkata tentang peran penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan kita:
“Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi.
Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius – tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi.
Al-Qur’an Al-Karim lebih dari 14 abad yang lalu, sebelum lahir ilmu pengetahuan modern, telah menyinggung fakta-fakta yang mengagumkan ini. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an,
“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (QS Al-Anbiya’ [21]: 32)

Penyakit Seksual Menular adalah Produk Sampingan dari Kotoran


Oleh Dr. Mohamad Daudah
Setiap kali perzinahan tersebar luas di tengah masyarakat, maka mereka pasti diserang wabah dan penyakit yang tidak pernah terjadi pada orang-orang sebelum mereka.
Nabi Saw. bersabda:

أن الفاحشة اذا ظهرت فى قوم ابتلاهم الله بالأوجاع و الأمراض التى لم تكن فى أسلافهم
Rasulullah SAW bersabda: “Jika perbuatan nista (zina) telah muncul dalam suatu masyarakat, Allah akan menurunkan bala atas mereka berupa kelaparan dan penyakit yang tak pernah ada sebelum mereka” (HR. Ibnu Majah)
Nabi Saw. juga bersabda, “Setiap kali perzinahan menjadi fenomena yang meluas di kalangan masyarakat, maka kematian akan tersebar di antara mereka." (HR Malik.)
Ilmu pengetahuan modern telah menunjukkan kepada kita melalui karya-karya mikrobiologi selama dua abad terakhir bahwa ada beberapa bakteri, mikroba, dan virus yang hanya ditularkan melalui hubungan seks dengan cara menyimpang seperti beberapa hubungan antara pria dan wanita, seks antara laki-laki dan laki-laki (sodomi), dan antara perempuan dan perempuan (lesbianisme). Semakin aneh kelainan seksual yang dilakukan, maka malapetaka dan penyakit semakin melanda masyarakat, karena mikroba ini menjadi resisten terhadap pengobatan. Selain itu, tubuh manusia akan gagal untuk melawannya, karena karena lemahnya kekebalan tubuh dan perubahan sifat-sifat organisme tersebut.

Hadis Nabi memberitahu kita tentang hukum sosial yang pasti akan terjadi bila terjadi hal-hal tertentu. Awalnya adalah penyebaran hubungan seksual yang dilarang termasuk perzinahan dan homoseksualitas di masyarakat. Lalu ketika hubungan tersebut menjadi normal dan diterima, maka ia akan menyebabkan akibat yang pasti pada mereka. Ini adalah apa yang dimaksud dalam ucapan Nabi Saw., “Jika perbuatan nista (zina) telah muncul dalam suatu masyarakat…”
Hukum telah berlaku di banyak masyarakat Barat di mana mereka telah menerima perzinahan dan homoseksualitas, dan bahkan disebarkan di antara mereka. Dalam bukunya Sexually Transmitted Diseases, Dr Schofield menulis bahwa reaksi masyarakat telah menjadi permisif dalam menghadapi semua praktek seksual.
Orang-orang tidak lagi malu dengan perzinahan, homoseksualitas, atau penyimpangan seksual lainnya. Yang paling menyakitkan adalah bahwa media massa telah mencekoki pikiran orang-orang muda bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh tetap suci. Kesucian telah menjadi aib di masyarakat Barat. Segala bentuk kegiatan seksual disebarkan dan didukung oleh berbagai media.
Menurut Encyclopedia Britannica, gay sekarang bertindak secara terbuka dan memiliki klub mereka sendiri, bar, taman, pantai, kolam renang, dan bahkan toilet.
Ratusan artikel, buku, drama, novel, dan film memuji prostitusi dan homoseksualitas dapat ditemukan di mana-mana. Beberapa gereja-gereja Barat bahkan telah menerima homoseksualitas dan perzinahan, dan imam sekarang boleh melakukan pernikahan gay di beberapa gereja. Banyak komunitas dibentuk untuk menghargai dan membela hak-hak gay. Ini adalah permulaan, bagaimana dengan hasilnya?
Banyak wabah penyakit seksual telah muncul dan banyak penyakit yang masyarakat di seluruh dunia kewalahan. Sejak kemunculannya pada tahun 1494, wabah sifilis telah merenggut kehidupan jutaan orang dan menghancurkan masa depan banyak orang lain. Virus yang menyebabkan penyakit ini masih terus mengubah diri dan menyerang orang-orang dari waktu ke waktu.
Gonore (orang awam menyebutnya kencing nanah) berada di atas daftar penyakit seksual menular. Inilah penyakit seksual yang paling luas penularannya, dan menakutkan jutaan orang, dan membuat mereka mandul. Penyakit ini menyerang orang-orang yang meninggalkan ajaran-ajaran Allah dan mengikuti jalan yang sesat. Baru-baru ini, orang-orang mulai mendengar tentang AIDS yang menghancurkan sistem kekebalan organ tubuh.
Penyakit ini membawa kematian bagi penderitanya setelah menyebabkan rasa sakit yang mengerikan. Ini adalah persis seperti apa yang Nabi Saw. Katakan kepada kita sejak lama. Bukankah ini bukti tambahan bahwa Muhammad Saw. adalah benar Rasulullah?

Misteri Marah: Antara Sains dan Quran


Oleh Dr. Mohamad Daudah
Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad Saw. meminta nasihat dan Nabi berpaling kepadanya, lalu beliau bersabda dengan berulang-ulang: "Jangan pernah marah!" (HR Bukhari)
Hal ini kemudian diperjelas oleh penelitian ilmiah yang menekankan bahwa kemarahan, secara psikologis dan rangsangan neorotik, tidak memiliki pengaruh yang lebih besar daripada berlari dalam hal meningkatkan denyut jantung dan memompa lebih banyak darah dan lebih cepat. Namun, marah tidak seperti berlari, pelari bisa berhenti jika dia mau, sedangkan marah tidak dapat dikuasai dengan mudah, terutama jika orang tersebut tidak terbiasa. Kemudian apa yang bisa terjadi?
Secara klinis terbukti bahwa orang-orang yang melampiaskan kemarahan dapat dengan mudah menderita hipertensi dan arteriosklerosis karena tekanan darah menjadi terlalu tinggi, sedangkan pembuluh darah kehilangan kemampuan untuk memperluas diri untuk menampung tambahan darah yang terpompa. Selain itu ada juga dampak psikologis dan sosial yang dapat merusak hubungan manusia.
Namun, layak diperhatikan bahwa yang menjadi pemikiran utama sejak lama adalah bahwa menahan marah juga menjadi pemicu banyak penyakit. Sebuah studi di Amerika menjelaskan bahwa marah dan menahwan marah memiliki bahaya kesehatan yang sama, meskipun berbeda tingkat keparahannya.
Jika kita menahan amarah, tidak akan ragu untuk menderita hipertensi dan kadang-kadang kanker. Dan dalam kasus lain, ini dapat menyebabkan serangan jantung mematikan, karena ledakan kemarahan akan terjadi, dan itu lebih sulit untuk dikontrol. Dan karena kondisi fisik begitu banyak terkait dengan psikologis, ini dapat menyebabkan organ-organ vital lainnya dan kelenjar untuk mengeluarkan hormon sampai-sampai mengganggu, dan akibatnya melemahkan sistem kekebalan, atau menghilangkannya sama sekali setelah terjadi keadaan kritis pada tubuh.
Jadi, ini menjelaskan mengapa sel-sel tubuh yang sehat dapat berubah menjadi kanker karena tidak adanya sistem kekebalan yang normal. Hal ini menunjukkan aspek ilmiah dan filsafat praktis di belakang pengulangan nasihat Nabi Saw. untuk menjaga ketenangan.
Di sisi lain, Dr.Ahmed Shawki Ibrahim, anggota dari Royal Society of Medicine di London dan konsultan kardiologi internal medicine, mengatakan bahwa kodrat manusia ditandai oleh kecenderungan dan perilaku yang berbeda. Sebagai contoh, keinginan jasmani mengarah kepada kemarahan, sifat dominan dilambangkan oleh kecenderungan terhadap kesombongan dan keangkuhan sementara mengikuti hawa nafsu seseorang menghasilkan kebencian dan keengganan untuk orang lain.
Secara umum, di samping penyakit-penyakit psikologis dan fisik lain seperti diabetes dan angina, menurut penelitian ilmiah dan menurut Dr Shawki, mengafirmasi kenyataan bahwa kemarahan yang terus-menerus dapat mempercepat kematian manusia.
Nabi Muhammad Saw. memerintahkan kita untuk menahan diri jika marah karena setiap tindakan di waktu marah itu dapat membawa penyesalan ketika tenang.
Alquran menggambarkan amarah sebagai kekuatan jahat yang memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Ketika Nabi Musa Saw. kepada kaumnya, maka ia marah, lalu dilemparnya lembaran-lembaran kitab suci, lalu ia menarik kepala saudaranya. Kemudian ketika amarah Musa mereda, maka beliau mengambil lembaran-lembaran kitab suci tersebut. Tampak jelas perbandingan antara kedua kondisi tersebut.
Jadi, apa yang kita butuhkan adalah kontrol diri setelah iman yang kuat dan kepercayaan kepada Allah, Pencipta kita. Petunjuk Nabi Saw. mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan itu identik dengan ketenangan, bukan kemarahan yang tak terkontrol.
Obat penenang juga tidak dapat menjadi solusi, karena efeknya justeru negatif.
Penggunaan obat penenang sering mereka dapat menjadikan kecanduan sehingga tidak dapat dihentikan. Cara mengatasinya adalah dengan mengubah perilaku manusia itu sendiri dalam menghadapi masalah sehari-hari, yaitu dengan ketenangan dan kehalusan, bukan dengan marah. Dr. Shawki menambahkan bahwa ada dua terapi psikologis untuk meredakan kemarahan:
Pertama: mengurangi kepekaan emosional dengan melatih pasien, di bawah pengawasan medis, untuk bersantai jika bertemu dengan situasi sulit sedangkan ia tidak merasakan kegembiraan.
Kedua: melalui relaksasi psikologis dan fisik, sembari mengingat pengalaman yang paling sulit dan mengubah posisi fisik, yaitu berdiri, duduk atau berbaring.
Walaupun ini adalah yang direkomendasikan oleh obat ini sangat beberapa tahun terakhir, Nabi-saw-mengajarkannya kepada para sahabatnya dalam hadis yang mengatakan bahwa bila seseorang merasa marah sambil berdiri (misalnya) mereka dapat duduk atau berbaring untuk mengusir kemarahan pergi.

Hafalan Alquran Dapat Mencegah Berbagai Penyakit


Oleh Abduldaem Al-Kaheel

Sebuah kajian baru membuktikan bahwa semakin banyak hafalan seseorang terhadap Al-Qur’an Al-Karim, maka semakin baik pula kesehatan. Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, guru besar psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, meneliti dua kelompok responden, yaitu mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz yang jumlahnya 170 responden, dan kelompok mahasis Al-Imam Asy-Syathibi yang juga berjumlah 170 responden.
Peneliti mendefinisikan kesehatan psikologis sebagai kondisi dimana terjadi keselarasan psikis individu dari tiga faktor utama: agama, spiritual, sosiologis, dan jasmani. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan parameter kesehatan psikis –nya Sulaiman Duwairiat, yang terdiri dari 60 unit.
Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis, dan mahasiswa yang unggul di bidang hafalan Al-Qur’an itu memiliki tingkat kesehatan psikis dengan perbedaan yang sangat jelas.
Ada lebih dari tujuh puluh kajian, baik Islam atau asing, yang seluruhnya menegaskan urgensi agama dalam meningkatkan kesehatan psikis seseorang, kematangan dan ketenangannya. Sebagaimana berbagai penelitian di Arab Saudi sampai pada hasil yang menegaskan peran Al-Qur’an Al-Karim dalam meningkatkan ketrampilan dasar siswa-siswa sekolah dasar, dan pengaruh yang positif dari hafalan Al-Qur’an untuk mencapai IP yang tinggi bagi mahasiswa.
Kajian tersebut memberi gambaran yang jelas tentang hubungan antara keberagamaan dengan berbagai bentuknya, terutama menghafal Al-Qur’an Al-Karim, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kesehatan psikisi individu dan kepribadiannya, dibanding dengan individu-individu yang tidak disiplin dengan ajaran-ajaran agama, atau tidak menghafal Al-Qur’an, sedikit atau seluruhnya.
Komentar terhadap Kajian:
Setiap orang yang menghafal sebagian dari Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an secara kontinu itu pasti merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya. Hafalan Al-Qur’an juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Melalui pengalaman dan pengamatan, dipastikan bahwa hafalan Al-Qur’an itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada seseorang, dan membantunya terjaga dari berbagai penyakit.
Berikut ini adalah manfaat-manfaat hafalan Al-Qur’an, seperti yang penulis dan orang lain rasakan:
1. Pikiran yang jernih.
2. Kekuatan memori.
3. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
4. Senang dan bahagia.
5. Terbebas dari takut, sedih dan cemas.
6. Mampu berbicara di depan publik.
7. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
8. Terbebas dari penyakit akut.
9. Dapat meningkatkan IQ.
10. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.
Karena itu Allah berfirman, “Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 49)
Ini adalah sebagian dari manfaat keduniaan. Ada manfaat-manfaat yang jauh lebih besar di akhirat, yaitu kebahagiaan saat berjumpa dengan Allah, memperoleh ridha dan nikmat yang abadi, mendapatkan tempat di dekat kekasih mulia Muhammad Saw.

Pegunungan adalah Pasak dari Segi Bentuk dan Fungsi


Oleh Dr. Mohamad Daudah
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
Allah berfirman, “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ [78]: 7).
Pada zaman dulu, gunung hanya dikenal sebagai blok batu menonjol dari bumi. Definisi ini dianggap berlaku sampai 1835, ketika Pierre Bouguer menunjukkan bahwa gaya gravitasi yang tercatat di pegunungan Andes adalah jauh kurang dari apa yang seharusnya untuk blok batu besar semacam itu. Konon, baginya, blok besar dari jenis yang sama harus terbenam jauh di dalam bumi. Atas dasar itu, kelainan gravitasi tersebut harus ditafsirkan.
Pada pertengahan abad ke-19, George Everest menaruh perhatian yang besar pada kelainan hasil pengukuran gravitasi dari Pegunungan Himalaya di dua tempat yang berbeda. Namun Everest gagal untuk menafsirkan fenomena ini dan ia menyebutnya sebagai Misteri india. Namun, George Airy pada tahun 1865 menyatakan bahwa semua rantai pegunungan di bumi merupakan blok yang mengapung di atas lautan magma (yaitu bahan batuan cair di bawah kerak bumi) dan bahwa semua bahan cair tersebut sebenarnya lebih tebal daripada gunung-gunung itu sendiri. Akibatnya, gunung-gunung harus menyelam ke bahan kepadatan tinggi ini untuk menjaga keseimbangannya.
Ahli geologi menemukan fakta bahwa kerak bumi terdiri dari lempengan-lempengan yang berdekatan di sebut benua, dan pegunungan yang besar terapung di lautan bahan cair dan batuan padat di bawah permukaan. Mereka juga menemukan bahwa gunung memiliki akar yang membantu mereka mengambang dan terus diikat dengan pelat bumi sehingga tidak akan bergetar. Pada 1948, geologist Van Anglin menyatakan dalam bukunya Geomorfologi (di halaman no. 27) bahwa saat ini telah diketahui dengan cukup baik bahwa ada suatu akar untuk setiap gunung di bawah kerak bumi.
Fungsi gunung di bumi adalah untuk mengikat kerak bumi. Fakta ini dibuktikan oleh prinsip keseimbangan hidrostatik bumi sebagaimana digambarkan oleh Dutton, geologist Amerika Serikat, pada tahun 1889. Dia menyatakan bahwa tonjolan bumi terbenam ke dalam bumi dengan cara yang sesuai dengan ketinggian mereka. Apalagi, setelah adanya lempeng bumi itu terbukti pada tahun 1969, menjadi jelas bahwa gunung-gunung berperan untuk menjaga keseimbangan semua lempengan.
Mukjizat Ilmiah
Manusia tidak tahu fakta tentang gunung-gunung yang hanya baru-baru ini akan tersedia di pertengahan abad ke-19. Sementara itu, Alquran dalam ayat ini menegaskan secara otoritatif bahwa gunung-gunung seperti pasak dalam hal bentuk dan fungsi mereka.
Baru-baru ini, kiasan yang akurat dari ayat ini terbukti benar. Gunung memiliki dua bagian: satu di permukaan dan yang lain di bawah tanah yang berfungsi untuk mengikat apa yang terikat dengannya. Demikian pula, sebuah gunung yang memiliki dua bagian: satu menonjol pada kerak bumi dan yang lain terbenam di bawah tanah, dengan cara yang sesuai dengan ketinggian. Fungsinya adalah untuk mengikat pelat kerak bumi dan mencegah mereka dari goncangan karena lapisan cair di bawahnya. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Al Qur'an adalah firman Allah Pencipta gunung-gunung dan seluruh alam semesta.
Allah berfirman: “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”? (Al-Mulk: 14)

Haman sebagaimana Disebutkan dalam Alquran


Oleh Abduldaem Al-Kaheel
Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Al-Qur’an:
“Dan berkata Firaun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (QS Al-Qashash [28]: 38)
Firaun yang disebutkan dalam ayat ini berbicara dengan para bangsawan bangsanya bahwa ia tidak mengenal tuhan untuk mereka kecuali dirinya sendiri. Firaun memanggil Haman untuk memintanya membangunkan untuknya dari tanah yang dibakar, atau batu bata, bangunan yang sangat tinggi supaya ia bisa melihat Tuhannya Musa.
Ayat ini menunjuk kepada banyak mujizat seperti:
1. Firaun memosisikan dirinya sebagai tuhan: seperti dalam perkataannya, “aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” Riset arkeologi menemukan peradaban Mesir kuno yang memastikan bahwa Firaun sejak dinasti keempat mengklaim bahwa mereka adalah anak-anak Dewa Raa, dewa matahari yang disembah oleh orang Mesir kuno. Tidak hanya itu, nama Raa berada di antara para keluarga fir'aun, seperti Raa Nip, yang berarti dewa emas. Kata ilmuwan arkeologi, yang bukti paling jelas bahwa Firaun menganggap diri mereka sebagai tuhan adalah adanya lagu untuk matahari yang telah diabadikan dalam teks-teks di dalam piramida, yang mengidentifikasi Firaun sebagai dewa matahari. Lagu ini berbicara ke rakyat Mesir, termasuk daftar panjang yang menakjubkan tentang manfaat yang dapat dinikmati rakyat Mesir di bawah perlindungan dan penguasa dewa matahari, seperti yang diberikan Firaun kepada rakyat Mesir. Ia harus menerima hadiah yang sama dari rakyat Mesir. Itu sebabnya seluruh lagu diulang lagi dengan menempatkan nama firaun meskipun yang tercatat dalam lagu asli adalah nama “Raa atau Horase”.
2. Keajaiban kedua adalah penggunaan batu bata oleh Fir'aun dalam membangun menara: Firaun meminta Haman untuk membangun istana yang tinggi atau menara dari tanah liat bakar yang merupakan batu bata. Hal ini dianggap sebagai mukjizat sejarah Alquran, karena telah menjadi pemikiran umum bahwa batu bata menurut para sejarahwan tidak muncul di Mesir kuno, kecuali setelah era Roma, dan ini menurut pendapat membuat para sejarahwan bertentangan dengan ayat yang menyatakan permintaan Firaun kepada Haman bahwa dia harus membangun sebuah istana yang tinggi dari tanah liat bakar atau batu bata. Pendapat para sejarahwan itu terus bertahan hingga Patry, seorang ilmuwan arkeologi menemukan sejumlah batu bata yang digunakan dalam membangun entombment dan juga digunakan dalam membangun beberapa bangunan dasar yang merujuk kepada masa Rammsis II , Mrinbtah dan Sity II dari dinasti keluarga kesembilan belas (1308-1184 SM). Dan ia menemukan batu bata itu dalam sebuah situs arkeologi yang tidak jauh dari Be Rammsis atau Kantir, Ibukota Fir'aun di timur Delta.
3. Mukjizat ketiga menunjuk ke salah satu asisten Firaun dengan namanya Haman. Profesor Morris Bokay menyatakan sebagai berikut, “Al-Qur’an menyebutkan seseorang bernama Haman yang merupakan salah satu pembantu Firaun. Firaun memintanya untuk membangun bangunan yang tinggi atau sebuah istana tinggi memungkinkan Firaun—ketika ia berkata dengan sinis kepada Musa—untuk mencapai Allah dan melihat-Nya. Dan saya ingin tahu apakah nama itu tidak terhubung ke sebuah nama hiroglif, sehingga ia dapat disimpan sebagai salah satu dokumen era tersebut, sehingga kemudian “Nakhara” yang berarti “menulis surat suatu bahasa dalam surat bahasa lain” akan terjadi. Dan saya tidak akan puas dengan jawaban kecuali yang datang dari seorang ahli dalam bahasa hieroglif dan juga mengetahui bahasa Arab secara baik.
Jadi saya bertanya kepada seorang ilmuwan di bidang Egyptologue dari perancis tentang kedua hal tersebut. Saya menulis nama Haman, tapi saya tidak mengatakan apa-apa kepadanya tentang realitas teks yang bersangkutan. Saya hanya mengatakan kepadanya bahwa kata ini terkait dengan abad ketujuh sebelum masehi. Jawabannya yang pertama adalah bahwa nama asli itu tidak mungkin karena tidak mungkin untuk menemukan teks yang mencakup nama nama seorang pria terkemuka dalam bahasa hieroglif dan juga memiliki sajak hiroglif yang terkait dengan abad ketujuh sebelum masehi.
Nama ini tidak dikenal sampai sekarang. Itu karena bahasa hieroglif telah lama dilupakan. Di sisi lain, ia menyarankan saya untuk memeriksa kamus nama-nama pribadi kerajaan baru dan untuk mencari nama ini, dengan memberi isyarat kepada saya tentang bahasa hieroglifnya jika benar-benar ditemukan. Dan ketika saya mencari, saya menemukan tertulis dalam kamus ini persis seperti yang saya harapkan. Sungguh suatu kejutan!
Saya tidak hanya menemukan namanya, tetapi juga menemukan pekerjaannya, seperti yang ditulis dalam bahasa Jerman “kepala pekerja galian”. Tetapi tanpa tanda apapun tentang masanya, kecuali teks yang berkaitan dengan kerajaan yang berdiri di zaman Nabi Musa, dan pekerjaan yang ditulis menunjukkan bahwa ia bertanggungjawab di bidang konstruksi. Jadi, apa pendapat kita tentang perbandingan antara perintah Firaun kepada Haman sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, dengan apa yang tertulis dalam buku ini.”
Mahabenar Allah dalam firman-Nya: “Dan berkata Firaun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS Al-Qashash [28]: 38)

Apakah Ada Obat Penuaan


Oleh Abd Al-Daem Kaheel
Para ilmuwan baru-baru ini menemukan sebuah gen pada pita DNA di dalam sel-sel tubuh; gen ini disebut Telomere. Ia merupakan pita yang memiliki panjang tertentu, dan mengontrol kematian dan penuaan pada sel. Tugasnya ini adalah untuk memelihara telomere DNA setelah setiap kali ia memecah diri untuk menghasilkan sel-sel baru.
Tapi telomere ini akan lebih pendek setelah setiap pembelahan sel sampai mencapai batas kritis ketika tidak bisa melakukan tugasnya lagi. Di sini, sel menjadi tua dan mati.
Para ilmuwan mencoba untuk memperpanjang usia biologis gen ini, mereka menemukan sebuah enzim yang disebut telomerase yang dapat mempertahankan penuaan gen dan sel-sel tetap dalam kondisi sehat untuk jangka waktu yang lebih panjang. Tapi bagaimana untuk menempatkan elemen baru ini di dalam setiap sel tubuh sementara jumlahnya triliunan sel??
Masalah baru yang dihadapi para ilmuwan adalah ketika sel melebihi usia tertentu tanpa mati, maka ia mulai berkembang biak dengan cepat sehingga menyebabkan kanker yang mengarah pada hasil yang sama: kematian!! Masalahnya dalam kasus ini adalah lebih besar; itu sebabnya kebanyakan ilmuwan melihat bahwa penuaan adalah cara terbaik untuk mengakhiri hidup manusia normal, dan setiap usaha untuk memperpanjang usia di luar batas-batas tertentu akan memiliki banyak efek, yang paling kecil yang kanker—semoga Allah melindungi Anda dan kami dari penyakit tersebut.

Kita melihat sebuah ilustrasi tentang pita DNA. Rekaman ini berisi semua informasi tentang kehidupan kita dan bahkan kematian kita. Dalam rekaman ini, kita memiliki gen penuaan yang bertanggung jawab untuk menjaga pita DNA ini, memiliki panjang tertentu dan menjadi lebih pendek dan lebih pendek setiap kali sel membelah diri hingga mencapai panjang tertentu dan kemudian sel mati.
Ini adalah bukti kebenaran firman Allah bahwa Dia menakdirkan kematian untuk semua manusia. Kematian itu ditakdirkan, terprogram, dan terencana. Inilah yang Alquran katakan kepada kita pada abad ketujuh, dan ini adalah apa yang ilmuwan temukan hari ini di abad kedua puluh satu. Mahasuci Allah!
Profesor Lee Silver dari American University Princeton, mengatakan, “Setiap upaya untuk memperoleh kekekalan adalah melawan alam; kematian benar-benar selaras dengan pembangunan. Kita memberikan gen kita kepada generasi berikutnya. Dan jika kita tidak mati, maka kita akan mengorbankan anak-anak kita untuk hidup yang tidak baik bagi perkembangan pembangunan.”
Pada titik ini, para ilmuwan menyimpulkan bahwa tidak ada obat untuk penuaan di saat ini, tetapi mereka akan melanjutkan penelitian dan mengerahkan miliaran uang untuk menemukannya dan memperpanjang usia manusia, tetapi usaha itu pasti sia-sia. Saya berharap bahwa para ilmuwan membaca hadis berikut dan menyelamatkan uang mereka dan menyimpan tenaga mereka!
Nabi terbesar Saw. bersabda: Hadis-hadis Nabi. antara lain: "Berobatlah, karena Allah tidak membuat penyakit kecuali membuat pula obatnya selain satu penyakit, yaitu pikun." (HR. Abu Daud dari Usamah bin Syarik).

Penyusuan yang Sempurna: Antara Sains dan Alquran


Oleh Abd-Alda'em Al-Kheel
Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan bahwa makanan sempurna untuk bayi adalah air susu ibu, dan bahwa memberi makan tidak akan lengkap tanpa ibu menyusui bayinya selama dua tahun. Itulah yang dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia di awal abad 20. Sesuatu yang telah dikatakan Al-Qur’an empat belas abad yang lalu.
Para dokter berpikir menyusui bayi hanya hanya memberi dampak psikologis hubungan dengan ibunya dan tidak ada manfaat lebih jauh. Tetapi setelah melakukan riset selama setengah abad, manfaat besar lainnya untuk menyusui mulai muncul, bahkan dewasa ini para ilmuwan menemukan manfaat baru dari susu ibu. Kekebalan tubuh yang disebut imunoglobulin ditemukan pada susu ibu pada awalnya. Ia memberikan kekebalan tubuh terhadap berbagai bakteri dan virus. Bahkan para ilmuwan menemukan bahwa jumlah bakteri dalam usus bayi yang diberi susu sapi adalah sepuluh kali lipat lebih banyak daripada yang ada dalam usus bayi yang diberi susu ibu.
Keuntungan Bagi Anak:
Kekebalan tubuh "imunoglobulin" membantu bayi selama tiga bulan pertama untuk melindungi tubuh dari serangan kuman terus-menerus, bahkan membantunya untuk membentuk dan memperkuat sistem kekebalan sendiri. Apalagi beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem kekebalan bayi tumbuh lebih cepat ketika ia diberi susu ibu. Susu ibu juga mengandung unsur kekebalan yang disebut "mucins" yang mengandung banyak protein dan karbohidrat. Zat ini mengikuti bakteri dan virus dan sepenuhnya menghilangkan mereka dari tubuh tanpa efek samping, berbeda dengan obat-obatan kimia.
Susu ibu juga memberikan stabilitas psikologis bayi, membantu tidur dan tenang, ia bekerja sebagai analgesik alamiah terbaik bagi bayi. ASI melindungi bayi dari alergi. Bahaya gizi pada susu sapi, misalnya, hal itu meningkatkan kemungkinan serangan kanker delapan kali lipat.
Keuntungan Bagi Ibu
Banyak studi yang dilakukan di tiga puluh negara menunjukkan ibu yang menyusui bayinya kurang terkena kanker payudara.
Rahim melebar dua puluh kali selama kehamilan dan melahirkan. Penelitian menunjukkan menyusui bermanfaat untuk membantu rahim kembali ke ukuran normal. Sebaliknya ibu yang tidak menyusui bayinya ukuran rahimnya tetap lebih dari batas normal. Selain itu, menyusui juga melindungi dari kanker rahim.
Penyusuan alami membantu ibu untuk mengurangi berat badannya dan melindungi dirinya dari kegemukan. Bahkan ia juga bekerja sebagai analgesik alami rasa sakit bagi ibu juga. Penyusuan alami juga membantu ibu dan anak untuk tidur nyenyak.
Manfaat Bagi Masyarakat
Penyusuan alami tidak mahal sebaliknya buatan menyusu. Kita mungkin terkejut ketika kita tahu bahwa American Academy for Pediatric menekankan jika Amerika Serikat mengikuti cara menyusu alami itu akan menghemat 3600 juta dolar per tahun.
Penyusuan alami juga berdampak positif pada lingkungan, karena polusi terjadi akibat proses manufaktur, pengeringan susu botol susu sapi, dan sampah yang dihasilkan dari penggunaan susu dan botol.
Periode Ideal Untuk Menyusui
Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi UNISAF melakukan banyak penelitian pada bayi, dan mendapat hasil dari penelitian ini bahwa periode yang ideal adalah dua tahun. Karena selama dua tahun pertama bayi memiliki kebutuhan mendesak terhadap susu steril seperti susu ibu, sebagai sistem kekebalan agar ia dapat menghadapi setiap kemungkinan penyakit sebelum dua tahun usianya.
Organisasi Kesehatan Dunia menyelenggarakan konferensi berjudul "Makanan Pendamping ASI" pada tahun 2001 dengan kesimpulan sebagai berikut:
Dua tahun pertama dari kehidupan bayi adalah jendela kritis di mana fondasi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat dibangun. Menyusui bayi merupakan inti perawatan dalam periode ini.
Selain itu, dalam kesimpulan dari konferensi, periode ideal untuk menyusui adalah dua tahun, karena ada kebutuhan mendesak bagi bayi terhadap kekebalan tubuh untuk mengembangkan sistem kekebalan selama periode ini. ia tidak dapat menemukannya selain dalam susu ibu.
Dokter menekankan bahwa semua jenis makanan tidak bisa cukup bagi bayi selama dua tahun pertama usia bayi, karena bayi menghalami banyak faktor yang mengakibatkan banyak penyakit. Sehingga dua tahun pertama merupakan masa kritis dan sensitif untuk bayi di mana kita harus bergantung pada susu ibu untuk menghindari bahaya ini.

Berdebat Dengan Munafiq


Oleh Reza Pratama
Beberapa kali mungkin kita terjebak dalam debat. Kadang malah terlihat tak berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina, bahkan tak jarang kata-kata kasar terlontar. Baru saja, sebelum menuliskan catatan singkat ini, saya membaca tulisan seorang saudara di akun twitternya.
Darinya, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini terkait sikap seorang da’i dalam menghadapi orang-orang munafiq. Allah berfirman,
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh". (QS al A'raaf 199)
Mengomentari ayat ini, Sayyid Quthb, dalam Zhilal, berkata, " Inilah arahan-arahan rabbaniyah di dalam menghadapi kejahiliyahan yang sangat buruk, di dalam menghadapi kemanusiaan yang tersesat. Arahan rabbani menyeru da'i untuk berlapang dada dan toleran. Juga supaya menyampaikan perintah dengan jelas untuk melakukan kebaikan yang sudah dikenal oleh fitrah manusia dengan lapang dengan tidak mempersulit dan tidak memperberat. Juga supaya ia berpaling dari tindak kejahiliyahan, dengan tidak menjatuhkan hukuman pada mereka, tidak mengajaknya/melayaninya berdebat, dan tidak ikut bersama-sama mereka", ujarnya.
Apabila mereka melampaui batas dan menimbulkan kebencian dengan keras kepala dan menghalang-halangi, dan setan mengembuskan kebencian itu, maka hendaklah seorang da'i memohon perlindungan pada Allah agar hatinya tenang, tenteram, dan bersabar.
Sementara itu, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, berkata, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dia menceritakan sebuah kisah mengenai umar ketika salah satu tamunya membuatnya marah. Maka al Hur bin Qais berkata padanya, “Yaa amiral mu'minin, sesungguhnya Allah ta'ala berfirman pada nabi, 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah dengan ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh'.”
Ibnu Jarir berkata bahwa sesungguhnya nabi telah memerintahkan agar dia menyuruh pada yang ma'ruf pada hamba-hambanya. Termasuk dalam yang ma'ruf itu adalah segala ketaatan, dan menyuruh berpaling dari orang-orang yang bodoh...
Mari tetap bersikap dingin menghadapi orang-orang munafiq. Sebab, Allah berkata bahwa memang seperti itulah tabiat mereka. Mereka akan tetap bersikap seperti itu hingga mereka mau mengubah apa yang ada dalam dirinya, yang kemudian berakibat pada turun tangannya Allah dalam mengubah hatinya, dalam mengubah sikapnya.
"Dan jika dikatakan pada mereka, "Marilah (kembali) pada apa yang diturunkan oleh Allah dan kepada rasulnya." kamu pasti akan melihat orang2 munafiq itu menghalang2i kamu dengan keras". (QS an Nisaa' 61)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada dalam qaum itu, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka". (QS ar Ra'd 13)
Menghadapi mereka, Allah memerintahkan kita untuk memberikan "qaulan baliigha" pada mereka.
"Mereka itu adalah orang2 yang Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Krn itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah pada diri mereka qaulan baliigha (perkataan yang membekas)". (QS an Nisaa' 63)
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan qaulan baliigha itu? Untuk lebih mudahnya, mari kita simak nasihat Syaikh Utsaimin berikut ini. Beliau, dalam ash Shohwatul Islamiyyah, berkata bahwa bashirah, khususnya dalam da'wah itu ada tiga: pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah.
Yang pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Pengetahuan atau penguasaan atas ilmu. Yang ini jelas merupakan syarat da’wah pertama. Tidak perlu saya jelaskan lagi lebih jauh. Sebab apa lagi yang akan dijelaskan oleh seorang da’i selain ilmu mengenai Islam? Bukankah mereka yang tak memiliki sesuatu tak dapat memberikan sesuatu?
Mengenai hal ini, Syaikh Utsaimin berkata, Sebagian orang menghukumi sebagian perkara yang bukan merupakan kewajiban sebagai perkara yang wajib; dibangun dengan ijtihad yang keliru, ta’wil, dan syubhat yang tiada dasarnya. Apalagi menjadikan hal tersebut sebagai tolok ukur wala’ dan bara’! Apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat dengannya, ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri telah menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Namun, apabila pendapat seseorang sesuai dengan pendapatnya, ia pun mencintainya.
Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Pengetahuan atas objek da’wah. Hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berda’wah di Yaman. Saat itu, beliau bersabda, Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. (Muttafaqun ‘alaih)
Kata-kata ini tentu bukan tanpa maksud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan kita mengetahui objek da’wah sebelum berda’wah padanya. Kita patut mengetahui tingkat ilmunya, kemampuannya dalam diskusi maupun debat, dan sebagainya, supaya kita kemudian mampu mengambil hatinya dan mengajaknya pada Islam. Asy Syaikh kemudian mengutip sebuah hadis berikut, Sesungguhnya kalian akan saling mengalahkan di hadapanku, dan sebagian kalian lebih cerdas dalam mengemukakan pendapat daripada sebagian yang lain. Maka aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang kudengar. Barangsiapa yang mengajukan perkara demi mengambil hak saudaranya, janganlah diambil. Sesungguhnya barangsiapa yang berhenti dari hal itu, terputuslah api neraka baginya. (Muttafaqun ‘alaih)
Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah. Pengetahuan atas da’wah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal mereka masing-masing". (HR. Muslim).
Ini penting, sebab tidak semua manusia memiliki standar yang sama dalam menilai perkataan orang lain. Bisa jadi, karena kita membaca al Quran dan mendapati nabi Ibrahim yang merupakan khalilullah itu sampai menyebut ummatnya sesat dengan perkataan yang jelas itu (QS 21:54), lantas kita berbuat hal yang sama.
Perlu kita perhatikan kultur masyarakat yang berkembang. Jelas berbeda kultur masyarakat nabi Ibrahim dengan kultur masyarakat kita, meski model ma’shiyatnya sama saja. Sama-sama kesyirikan yang jadi masalah. Jelas berbeda kultur masyarakat Arab zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan budaya masyarakat Indonesia saat ini. Dahulu, ada sebuah qabilah yang nyaman saja disebut “bani kalb”. Tapi tentu itu tak tepat bila sebutan itu disematkan—dengan alasan apa pun—pada penduduk Indonesia. Dahulu ada sahabat yang lazim dipanggil Abu Hurairah. Tak pas pula rasanya bila panggilan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kemudian kita sematkan pada tetangga kita yang menyukai kucing.
Untuk itu, Rasul kemudian memerintahkan kita untuk berbicara—dalam rangka berda’wah, tentu—menurut kadar akal objek da’wah. Semata supaya pesan da’wah ini tak tertinggal. Supaya maksud besarnya tak terpotong.
Ada sebuah kekhawatiran dari dalam diri saya melihat da’i yang mengabaikan rambu-rambu ini: akan ada perdebatan-perdebatan tak berkualitas yang secara perlahan tapi pasti akan menurunkan izzah para da’i di mata mad’unya. Akibatnya, belum satu kalimat terlontar dari lisan kita, keengganan mereka sudah muncul terlebih dahulu. Jadilah niat kita untuk berda’wah tak terlaksana.
Syariat ini perlu disampaikan. Salah satu wasilahnya adalah dengan cara beradu argumen (QS 16:125). Berdebat, dengan kata lain. Di sisi lain, kita mudah menjumpai ayat maupun hadis yang berisi anjuran untuk meninggalkan debat. Apalagi bila debat itu mempertanyakan hukum atau syariat Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran mereka sekali-sekali tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan pada Allah. Sesungguhnya Ia maha mendengar lagi maha melihat. (QS al Mu’min 56)
Namun, sekali lagi, penguasaan kita terhadap medan da’wah diuji di sini, di mana kita harus menempatkan diri kita di posisi pertengahan. Lembut dalam berda’wah memang dianjurkan. Tapi jelas tidak untuk setiap saat dan tempat. Serupa debat Ibrahim ‘alaihissalam muda dengan Namrudz. Atau seperti argumen-argumen Musa ‘alaihissalam di hadapan Fir’aun.
"Janganlah kamu mengikuti orang2 yang mendustakan ayat2 Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (juga) padamu". (QS al Qalam 8-9)

Persatuan Umat, Kewajiban Agama Yang Luput Dari Perhatian


Oleh Ilham Jaya Abdul Rauf
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada kekasih dan Rasul-Nya, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, mega-proyek neo-kolonialisme Barat berikutnya adalah menciptakan disintegrasi politik dalam tubuh umat Islam. Tujuannya, memandulkan kekuatan Islam agar mudah dieksploitasi.
Untuk menyukseskan mega-proyek tersebut, Barat sengaja menciptakan, dan selanjutnya memelihara, konflik perbatasan pada setiap sudut bumi. Konflik tersebut dapat dipicu sewaktu-waktu Barat menginginkannya.
Di sisi lain, untuk menjamin bahan-bakar konflik dan perpecahan tersebut, secara kultural, Barat juga sengaja menciptakan konflik-konflik sektarian berbasis nasionalisme semu. Sasarannya, agar Arab terisolir dari basis ruhiyah dan pengaruh Islamnya. Sebagaimana konflik sektarian berbasis nasionalisme itu juga untuk memecah-belah bangsa Arab kepada blok-blok primordialisme yang sempit.
Tidak sampai di situ, Barat secara agresif memanfaatkan setiap momentum untuk terus menciptakan perpecahan serta mendorong gerakan-gerakan separatis di dunia Islam. Sehingga energi dan potensi umat Islam terkuras; dan jalan menuju kemajuan dan peradaban mereka senantiasa menemui jalan buntu.
Dalam satu dekade terakhir, tercatat sejumlah proyek disintegrasi yang berhasil direkayasa Barat di dunia Islam. Terdapat tiga yang utama:
Pertama, pemisahan Sudan Selatan sebagai pintu utama untuk memecah belah Sudan di masa yang akan datang.
Kedua, pemecahan Irak secara politik kepada tiga negara kecil. Satu kondisi yang akan menjebak negara-negara tersebut sekadar boneka di “tangan” Barat yang pada babak berikutnya akan berlomba untuk mencari muka kepada Barat.
Ketiga, pemisahan Yaman Selatan.
Selain tiga yang telah disebutkan itu, terdapat sejumlah proyek lain yang sewaktu-waktu diangkat ke permukaan. Seperti disintegrasi politik di Teluk, separatisme Qibti di selatan Mesir, gerakan pemisahan sahara Maroko, disintegrasi politik di Pakistan, dll.
Demikian krusial isu separatisme dan disintegrasi di dunia Islam seperti dipaparkan di atas, namun sikap politik yang paradoks senantiasa terjadi: setiap kali isu tersebut diangkat pada forum-forum politik dan media Arab, isu tersebut senantiasa digiring ke dalam konteks politik dalam negeri yang sempit yang tak boleh “disentuh” dunia luar. Pada saat pihak Barat justru bebas memainkan perannya dan turut campur tangan terhadap kepentingan umat Islam.
Lemahnya perhatian umat terhadap kewajiban menjaga persatuan Islam merupakan isu kontemporer yang sangat krusial. Di tengah banyaknya perintah Al-Qur’an dan Hadits yang menyerukan persatuan, mendorong terciptanya kesatuan dan melarang perpecahan.
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. (Terj. QS. As-Syura [42] : 13)
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Terj. QS. Ali Imran [3] : 103)
Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk bersatu; dan melarang mereka berpecah. Dia menyuruh meraka agar berpegang kepada agama sehingga mereka bersatu utuh.
Inti dari risalah umat Islam adalah bersatunya umat dalam ibadah dan pengagungan kepada Allah.
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (Terj. QS. Al-Mu’minun [23] : 52)
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Terj. QS. Al-Anbiya [21] : 92)
Program pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tiba di Madinah adalah menciptakan masyarakat bersaudara. Masyarakat tersebut terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar; sembari beliau menghapuskan fanatisme kesukuan jahiliyah. Sehingga iman yang menjadi unsur perekat bagi masyarakat.
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. (Terj. QS. At-Taubah [9] : 71)
Dengan kata lain, iman seseorang tak akan sempurna bila dia tidak membangun hubungan dan interaksinya atas fondasi iman tersebut. Sebagai implementasi dari perintah Al-Qur’an.
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Terj. QS. Al-Mujadilah [58] : 22)
Ulama besar, Al-Qadi ‘Iyadh berujar: “Persatuan merupaka salah satu kewajiban agama, fondasi syariat, dan sistem islam.”
Di era Jahiliyah, masyarakat Arab dibangun di atas basis fanatisme suku. Suku merupakan poros kebanggaan masyarakt Arab waktu itu. Setelah Islam datang, bangunan masyarakat tersebut direkonstruksikan kepada basis persaudaraan berdasar agama. Dan Islam menjadikan agama sebagai azas perbedaan.
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Terj. QS. Al-Hujurat [49] : 10)
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Terj. QS. Al-Hujurat [49] : 13)
Pada saat Fathu Makkah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhotbah dan memproklamirkan azas bangunan umat ini. Katanya: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian keangkuhan Jahiliyah dan kebanggaan kepada nasab. Manusia hanya ada dua: manusia yang baik, takwa, mulia di sisi Allah. Dan manusia durhaka yang celaka dan hina di sisi Allah. Semua manusia keturunan Adam, dan Allah menciptakan Adam dari tanah.”
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Terj. QS. Al-Hujurat [49] : 13)
Di saat Haji Wada’, Nabi memanfaatkan momen berkumpulnya massa untuk menyosialisasikan fondasi persatuan umat. Sabdanya: “Sesungguhnya Rabb kalian satu, bapak kalian satu. Ketahuilah, tak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam, tidak pula orang Ajam atas orang Arab. Tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah atau sebaliknya; melainkan karena takwanya.”
Kendati perubahan yang diinginkan Nabi bukanlah hal yang mudah apalagi formalitas belaka; namun tarbiyah Iman yang telah ditanamkan Nabi merupakan dasar yang kokoh bagi sahabat-sahabatnya untuk mampu mewujudkann perubahan tersebut.
Olehnya itu, Allah menjadikan persatuan sebagai salah satu karunia-Nya yang besar.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Terj. QS. Ali Imran [3] : 103)
Sebagaimana Dia mengingatkan mereka agar tidak lengah dari hilangnya nikmat tersebut.
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Terj. QS. Ali Imran [3] : 105)
Proyek persatuan umat bukanlah cita-cita muluk dan utopia. Tapi tujuan tersebut menyimpan dua sisi yang tak mungkin terpisah satu sama lain:
  1. Adanya upaya sungguh-sungguh untuk membendung proyek diintegrasi yang dirancang Barat.
  2. Adanya upaya untuk membangun kembali simpul-simpul kekuatan peradaban umat, yang di antaranya adalah persatuan umat.
Umat Islam telah lama merasakan pahitnya perpecahan di bawah hegemoni peradaban Barat yang kelam. Dan umat Islam tak mungkin mengentaskan problem tersebut tanpa dia berbalik kepada dasar akidah dan sejarahnya.
Di bulan Dzulhijjah ini, momentum persatuan umat dalam ritual ibadah haji demikian menggugah kita semua. Pakaian jutaan jamaah haji itu satu, tujuan perjalanan mereka satu, Rabb yang mereka seru satu, kiblat shalat dan doa mereka satu, manasik mereka dalam syariat yang satu, dan seluruhnya pada dimensi waktu yang sama.
Momentum tersebut merupakan kesempatan untuk merajut kembali “benang kusut” cita-cita persatuan umat. Implementasi dari perintah Nabi SAW: “Engkau melihat orang-orang beriman dalam kasih sayang, cinta, dan persatuan mereka bagaikan satu tubuh. Bila satu anggota merasakan sakit, seluruh anggota tubuh akan ikut merasakan dengan begadang dan demam.”
Bulan ini adalan kesempatan emas bagi ulama, dai, dan seluruh komponen umat untuk mengajak kembali umat kita meninggalkan “fanatisme Jahiliyah.” Kesempatan untuk mengingatkan umat terhadap konsekuensi ukhuwah dan tolong-menolong atas kebaikan dan takwa. Sebagai jawaban terhadap perintah Allah Ta’ala:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Terj. QS. Al-An’am [6] : 153)

Pemilu Mesir: Saatnya Menguji Politik Ikhwan (Habis)



Satu hal yang selalu membayangi Ikhwan dan menjadi ketakutannya sendiri, adalah—menurut Hamid—disamakan dengan Al-Qaidah.
"Kami tidak akan menjadi Iran," desak Ayyash, seraya menambahkan bahwa ia percaya gerakan Islam akan mendukung kepentingan keamanan nasional AS. "Para aktivis gerakan Islamis secara umum berusaha menemukan jalan antara nilai-nilai liberal dari persamaan dan kewarganegaraan, tetapi dari aspek Islam."

Peran perempuan, misalnya, diberikan posisi dalam politik dan kekuasaan.
"Saya percaya bahwa Islam moderat akan memberikan kebebasan bagi partai-partai membentuk ideologi mereka," ujar Ayyash. "Jika orang mengatakan ya untuk homoseksualitas, misalnya, jika saya berada dalam kekuasaan, saya pikir saya akan segera meninggalkan kekuasaan tersebut... dan saya akan berada di oposisi untuk mencoba meyakinkan orang lain bahwa ini adalah salah."

"Tapi," ia menambahkan, "Saya pikir Mesir saat ini akan menolak hal itu karena bertentangan dengan Quran."
Namun, bahkan dengan sikap politik dan demokrasi seperti itupun, Ikhwan tetap secara resmi tidak didukung dan tidak dilindungi oleh AS.


Meskipun Departemen Luar Negeri AS tidak mengeluarkan pernyataan tentang pemilihan parlemen yang akan datang beberapa pekan lalu, para pejabat Amerika merasa tidak pernah seberhasil sekarang ini dalam mempromosikan demokrasi.

Brian Katulis, seorang spesialis senior di Pusat Kemajuan Amerika dan Timur Tengah, berpendapat lain, "Saya tidak berpikir bahwa pemerintahan Bush secerdas itu dalam usaha memajukan agenda kebebasan. Itu sebuah jenis respon yang menyebabkan sebuah penghematan."
Menurut Katulis, selama hampir 60 tahun, Amerika sudah berusaha untuk menerapkan demokrasi di Timur Tengah, namun tidak pernah berhasil. Bush bahkan sampai harus menirim Condoleezza Rice untuk "berteriak dari atap," kata Katulis. "Apa yang sudah dilakukan oleh Obama jauh lebih efektif.”
Menurut sebagian besar pengamat, Mesir saat ini tak lagi ketat menjalankan politik negara mereka. Bahkan diperkirakan jika kita pada tahun 2005, diperkirakan hanya 9% saja persen dari total penduduk yang memberikan suara dalam pemilihan presiden, maka saat ini terjadi pelonjakan tajam. Ini ditengarai akibat dari andil besar Ikhwan yang ironisnya, dilarang untuk mengikuti pemilu.
"Ada beberapa kelompok tertentu yang kami lihat mereka memiliki suara dominan di bawah pemerintahan Bush dan merasa bahwa Anda bisa menjalankan demokrasi tanpa aktivis Islami," kata Katulis. "Saya pikir orang-orang itu tidak pernah menghabiskan waktu di lapangan di tempat-tempat seperti Mesir."
"Sulit membayangkan proses demokratisasi di Mesir tidak melibatkan kelas menengah yang saleh, dimana diwakili oleh Ikhwan," kata Albertson.


Menurut Hamis, Obama harus mengenal langsung Ikhwan, dan menambahkan bahwa ia percaya Gamal Mubarak akan lebih bermusuhan dengan mereka.
"Kaum Liberal dan kaum kiri tidak pernah bisa mengerahkan orang ke jalanan di dunia Arab," kata Hamid. Sedangkan gerakan Islami mendapatkan manfaat dari infrastruktur yang ada untuk menyebarkan pesan mereka—yaitu masjid—dan wacana politik di wilayah ini secara historis berputar sekitar Islam.

Atau dalam bahasa Ayyash : "Orang-orang Arab sangat emosional namun sangat religius, dan mereka lebih dipengaruhi oleh pidato dari para kaum Islami moderat daripada rezim."

Innalillahi, Ahmadinejad Menghina Dua Sahabat Rasul!


Di tengah eforia kemenangannya dalam pemilu Iran yang baru saja digelar, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad saw.
Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.
Seperti yang diketahui, Iran yang berbasis Syiah ini—salah satu aliran Islam yang dianggap menyimpang—sudah sejak lama mempersempit ruang gerak para jamaah ahli Sunnah (kaum Sunni). Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, bahkan para jamaah Sunni mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Rafidi Khomeini.
Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”
Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.
Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad sudah sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Bahkan, pendahulu Ahmadinejad, Rafidi menghina dan menganggap remeh alias menyepelekan 90% Muslim seluruh dunia.
Namun demikian, masih banyak juga pihak atau pengagum Rafidi dan pengingkar sahabat Rasul lainnya seperti Ahmadinejad ini. Mereka adalah orang yang tidak menyadari gerakan Syiah atau mereka yang tak mau memahami rejim 12 Imam ini yang merupakan musuh terbuka terhadap para sahabat Rasul.

Israel Deportasi Aleg Hamas dari Yerusalem ke Tepi Barat


Israel telah mendeportasi Muhammad Abu Tir, seorang anggota parlemen dari gerakan perlawanan Palestina Hamas, dari al-Quds (Yerusalem) ke Tepi Barat yang diduduki.
Pengadilan Israel mengatakan pada hari Rabu kemarin (8/12) bahwa Abu Tir tidak diizinkan untuk terus tinggal di al-Quds.
Anggota parlemen Hamas tersebut ditahan pada akhir Juni lalu dengan alasan bahwa dia tinggal secara ilegal di al-Quds.
"Israel bertujuan untuk mengusir orang-orang Yerusalem (al-Quds). Israel tidak ingin melihat orang Arab di Yerusalem. Mereka ingin melakukan yahudisasi kota," kata Abu Tir kepada wartawan.
Jurubicara Hamas Fawzi Barhum mengutuk keras tindakan Israel, mengatakan hal itu adalah "jelas melanggar konvensi internasional," lapor kantor berita Maan.
Dia menambahkan bahwa hal itu adalah yang terbaru dalam upaya Israel untuk mendorong Palestina keluar dari tanah mereka dan mengkonfirmasi "bahwa pasukan pendudukan tetap melanjutkan kejahatan mereka terhadap orang-orang Palestina.
Pejabat Hamas mendesak Otorita Palestina untuk mengambil sikap tegas tentang masalah ini dan meminta negara-negara Arab untuk "melakukan tugas mereka untuk melindungi penduduk Yerusalem (al-Quds) dan perwakilan dari Palestina."
Israel menduduki al-Quds Timur dalam perang 1967 dan mencaploknya kemudian, sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional. Bagaimanapun, Palestina menginginkan al-Quds Timur sebagai ibukota negara masa depan mereka.

Israel Gunakan Senjata Gas Air Mata Mematikan Kepada Warga Sipil Palestina


Pasukan Israel diklaim membunuh satu warga Palestina, melukai banyak warga lainnya, dengan menggunakan senjata terlarang dan senapan yang berupa tabung gas air mata mematikan, kata sebuah kelompok hak asasi Israel.
"Tentara Israel menembakkan senapan gas air mata dan telah membunuh salah seorang pengunjuk rasa tak bersenjata Palestina dan mencederai banyak lainnya, salah satunya dalam kondisi kritis," kata Sarit Michaeli, direktur komunikasi untuk B'Tselem, kata Pusat Informasi Hak Asasi Manusia Israel di Daerah Pendudukan pada Kamis kemarin (9/12), Reuters melaporkan.
"Jangkauan senapan tabung gas air mata jauh lebih kuat daripada aluminium tabung gas air mata biasa, kami tahu bahwa tembakan tentara Israel secara rutin dilakukan terhadap para pengunjuk rasa, mereka sangat berbahaya," kata sumber itu.
Senapan yang terdiri atas tabung gas air mata, dilengkapi dengan jet propelan yang kuat, hampir tidak mungkin untuk mendeteksi dalam tembakannya, sehingga melipat gandakan efek mematikan senjata tersebut.
Michaeli mencatat bahwa tabung tersebut telah digunakan dalam beberapa minggu terakhir terhadap pengunjuk rasa di Tepi Barat yang diduduki.
Lembaga HAM itu mengatakan bahwa mereka telah mencatat tiga insiden pada bulan lalu, ketika para demonstran di desa Tepi Barat Nabi Salah telah ditargetkan dengan granat.
Awal tahun ini, sebuah laporan oleh kantor berita Ma'an Palestina menunjukkan bahwa tabung gas air mata teroksidasi yang telah kadaluarsa ditemukan di tanah setelah bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina yang berdemo di lingkungan Silwan Timur al-Quds (Yerusalem ) yang menewaskan dua warga Palestina.
Menyusul insiden itu, warga melaporkan adanya gejala kelelahan, demam tinggi, muntah dan sesak napas sementara tenaga pelayanan medis menyatakan bahwa mereka yang terluka dalam insiden itu menampakkan tanda-tanda keracunan.
Seorang bayi berusia 14 bulan juga meninggal karena menghirup gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Israel.

Zahhar: Hanya Perjuangan Bersenjata yang Akan Membebaskan Palestina


Pemimpin Hamas Mahmud Zahhar mengatakan hari Kamis kemarin (9/12) bahwa semua faksi Palestina, termasuk Fatah, harus membentuk sebuah front bersatu dalam perjuangan bersenjata untuk membebaskan semua wilayah bersejarah Palestina.
Zahhar secara pribadi membakar bendera Israel selama konferensi pers singkat di Gaza yang diselenggarakan untuk memperingati 23 tahun berdirinya Hamas.
Dia berkata: "Pendudukan Israel akan berakhir. Dan tidak punya masa depan di antara kita. Prinsip-prinsip bangsa Palestina adalah kita tidak untuk melakukan negosiasi oleh siapapun. Kemanusiaan adalah nilai suci bagi kami serta tanah kami, yang tidak tunduk pada pemilu, atau... referendum, atau kompromi, membeli atau menjual. "
"Kami juga menyerukan bangsa Arab untuk melepaskan rakyatnya untuk mencapai Palestina," katanya. Dia juga mendesak Otorita Palestina di Tepi Barat untuk mengizinkan kelompok "perlawanan" untuk melanjutkan serangan terhadap Israel.
Mengatasi dunia Barat, ia berkata, "Kami bukan musuh Anda, musuh Anda adalah orang yang mengirim tentara ke dalam perang gagal di Libanon, Iran, Somalia, Irak, Afghanistan dan Sudan."
Komentar Zahhar ini kontras dengan pernyataan yang dibuat sebelumnya oleh perdana menteri yang berafiliasi dengan Hamas di Gaza, Ismail Haniyah, yang mengatakan gerakan hamas akan menghormati hasil referendum pada penciptaan negara Palestina di Tepi Barat dan Gaza saja.
Haniyeh mengatakan kepada wartawan: "Kami tidak punya masalah dengan mendirikan negara Palestina dengan kedaulatan atas tanah yang diduduki pada tahun 1967, dengan hanya sebuah solusi untuk para pengungsi, termasuk pembebasan semua tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, dan dengan pemilu sebagai satu-satunya cara untuk mengalihkan kekuasaan dari satu pihak kepada pihak lain. "
"Hamas dan pemerintah Palestina akan menghormati hasil referendum apapun," kata Haniyah beberapa waktu lalu.

Abu Sya'ar: General Electric Mendukung Perluasan Pemukiman Ilegal Yahudi


Menteri Palestina urusan agama, Dr Thalib Abu Sya'ar mengecam keras perusahaan Amerika, General Electric yang mendukung dan berpartisipasi dalam proyek permukiman yahudi ilegak di gunung Abu Ghunaim antara wilayah Yerusalem yang diduduki dan Betlehem.
Dr. Abu Sya'ar dalam siaran persnya pada Kamis kemarin (9/12) mengatakan bahwa perusahaan ini (General Electric) bekerja sama dengan perusahaan Ligon Israel dan ambil bagian dalam pembuatan fasilitas pengolahan air limbah di daerah Abu Ghunaim dengan biaya sekitar 30 juta shekel.
Menteri Palestina ini menyatakan kekecewaan yang sangat terhadap apa yang digambarkan sebagai kolusi Zionis-Amerika di mana General Electric terlibat di dalamnya, sembari menekankan bahwa perusahaan ini telah melanggar hukum internasional ketika mengambil langkah tersebut dan mencerminkan permusuhan kepada bangsa Palestina.
Dalam insiden lain, sumber-sumber pers Israel melaporkan bahwa AS menyisihkan dua juta dolar untuk membiayai sistem anti-rudal Israel yang dikenal sebagai Iron Dome yang dimaksudkan untuk mencegat setiap proyektil, misil atau roket yang ditembakkan ke Israel di masa depan.

Israel Berusaha Rusak Infrastruktur Listrik Palestina di Tepi Barat


Israel telah memerintahkan penghancuran infrastruktur listrik di dua desa Palestina di Tepi Barat, namun penduduk desa mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan langkah tersebut dilaksanakan.
Warga Palestina mengatakan mereka akan menantang perintah Israel untuk pembongkaran untuk infrastruktur listrik dan jaringan listrik di desa-desa mereka, di selatan al-Khalil (Hebron).
Kepala dewan desa Rifaya dan al-Deirat, dekat Yatta, di Tepi Barat selatan, telah mengeluarkan perintah Kamis kemarin (9/12) oleh pemerintah Israel untuk pembongkaran garis transformator dan power suply listrik untuk 800 orang di dua desa terpencil, Maan News melaporkan.
Ketua Komite rakyat lokal, Azmi Ash-Sheiyukhi, mengatakan bahwa warga al-Deirat telah membayar untuk transformator listrik tersebut.
Dia juga mengatakan, warga telah merencanakan untuk menentang perintah untuk pembongkaran, yang ia sebut "tidak sah dan ilegal."
Israel sering melakukan pelecehan terhadap warga desa di Tepi Barat selatan dekat Yatta sejak awal 1981. Sebagian besar tanah Palestina telah disita. Saat ini lima permukiman Yahudi ilegal terdapat di daerah itu.
Penjajah Israel telah berulang kali menghancurkan rumah warga Palestina dan telah mengambil alih ternak dan pakan ternak warga Palestina. Bahkan ternak milik warga Palestina ditembak oleh tentara Israel dan pemukim yahudi.

Jihad Islam: Perlawanan adalah Pilihan Rakyat Palestina Bukan Negoisasi


Jihad Islam menegaskan bahwa perlawanan adalah pilihan rakyat Palestina, dan adalah satu-satunya cara untuk menghadapi kebijakan agresi dan pendudukan zionis Israel, dalam rangka membela tempat-tempat suci dan memulihkan hak-hak bangsa Palestina yang dirampas.
Jihad Islam mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Otoritas Fatah di Ramallah harus keluar dari perundingan dengan pendudukan Israel karena hal itu bukan solusi untuk masalah ini, perundingan hanya menambah krisis dan ketergantungan atas babak baru dari penipuan dan disinformasi yang sengaja ditutupi penjajah Zionis yang bersembunyi dibalik krisis untuk melanjutkan proyek-proyek dan skema pendudukan."
Jihad Islam menambahkan bahwa kesatuan bangsa Palestina merupakan prioritas penting dan perlu, dan hal itu merupakan pilar mendasar dari ketabahan bangsa Palestina dan perlawanan serta restorasi persatuan adalah kepentingan terdepan yang harus menjadi tanggung jawab bersama yang sah dan sikap patriotisme tidak menerima penundaan atau ketergantungan dari setiap agenda dari musuh.
Dalam pernyataannya selanjutnya, Jihad Islam menekankan bahwa negosiasi perdamaian adalah seruan yang tidak berguna dan terbukti tidak membuahkan hasil di semua tahapan.

IDF: Hamas Berhasil Meningkatkan Kemampuan Anti-Tank Mereka


Pasukan Pertahanan Israel (IDF) semakin prihatin tentang peningkatan dalam insiden di perbatasan Gaza, khususnya adanya peningkatan kemampuan nyata pejuang Palestina dalam hal senjata anti-tank.
Dini kemarin angkatan udara IDF menyerang tiga sasaran Hamas di Jalur Gaza: menyerang fasilitas penyimpanan senjata di utara dan dua lokasi lainnya di selatan. Tidak ada korban Palestina dilaporkan.
Serangan itu menyusul setelah ada serangan terhadap seorang petugas keamanan di sebuah daerah Eshkol pada Rabu malam dalam serangan mortir dari Jalur Gaza.
Seorang juru bicara IDF mengatakan Israel menganggap Hamas bertanggung jawab atas serangan dari Jalur Gaza, sehingga membalas serangan terhadap instalasi yang dijalankan oleh gerakan tersebut.
Pada hari Selasa lalu, IDF menemukan empat area di mana improvisasi alat peledak telah diletakkan di sepanjang perbatasan dengan Gaza, pejuang Palestina diyakini melakukan hal itu untuk menyerang patroli Israel.
Awal minggu ini secara signifikan pejuang Palestina berhasil merusak sebuah tank Israel dengan menembakkan sebuah rudal anti-tank dari wilayah perbatasan.
Pejuang Palestina telah meningkatkan kemampuan senjata anti-tank mereka lewat penyelundupan dari Semenanjung Sinai di Mesir, kata IDF.
Hamas dan faksi-faksi pejuang yang lebih kecil berusaha untuk meng-upgrade kemampuan senjata anti-tank mereka untuk lebih mampu memperlambat kendaraan militer IDF dalam perlawanan darat.
Selama serangan Gaza Israel dua tahun yang lalu, yang dikenal sebagai Operasi Cast Lead, Hamas merasa sulit untuk mengganggu gerakan tank militer Israel, sehingga pejuang Palestina mengidentifikasi kemampuan anti-tank mereka sebagai tempat kunci untuk perbaikan dalam melakukan perlawanan.
Sumber senior IDF kepada Haaretz mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan yang nyata dalam beberapa pekan terakhir dalam pertempuran di Jalur Gaza, sebagian besar berasal dari upaya pejuang Palestina 'untuk menempatkan alat peledak di dekat pagar perbatasan.

Dua Anak Palestina Kembali Tewas Karena Bom Israel



Dua anak Palestina dilaporkan tewas hari Jumat kemarin dalam ledakan bom yang ditinggalkan oleh tentara Israel selama perang di Gaza. Empat lainnya cedera dalam tembakan Israel di Gaza utara dan selatan.
Adham Abu Salmiya, koordinator media pelayanan medis di Gaza, mengatakan bahwa Muntasir al-Batniji dan Mo'men Hillis, keduanya berusia 16 tahun, tewas di pinggiran Kota Gaza, Shejaeyyah sebagai akibat ledakan bom yang meledak tersisa oleh IOF selama perang terakhir di Gaza dua tahun lalu.
Selain itu, empat warga Palestina, juga dilaporkan terluka kemarin karena tembakan tentara Israel, dua di antaranya adalah 16 tahun dan dua dari mereka berumur awal tahun duapuluhan, tiga dari mereka di Beit Lahia di Jalur Gaza utara dan satu di Khan Younis di Jalur Gaza selatan.

Abu Marzook: Otoritas Palestina Adalah Alat Kepentingan Israel



Dr Mousa Abu Marzook, wakil-kepala biro politik Hamas, mengesampingkan kemungkinan bahwa Mahmoud Abbas akan membubarkan Otoritas Palestina, menggambarkan organisasi yang dipimpin oleh Mahmoud Abbas itu sebagai kepentingan Zionis.
"Pembubaran Otoritas Palestina adalah sesuatu yang tidak ada dalam cakrawala sekarang karena Otoritas Palestina masih merupakan minat utama Israel, bukan dalam kepentingan rakyat Palestina,", kata pejabat Hamas tersebut dalam sebuah wawancaranya pada Kamis malam dengan Al-Jazeera.
Dia menambahkan, "Kami menghadapi pilihan sulit, dan ada pilihan praktis yang harus ditempuh, termasuk menghentikan semua bentuk koordinasi keamanan dengan pendudukan Israel, menghadapi kegiatan permukiman Israel, menghentikan perundingan sia-sia dengan Israel, dan mengandalkan perlawanan sebagai pilihan strategis, selain mendorong negara dan rakyat Arab terus mendukung kepada rakyat Palestina ".
Selain itu, Abu Marzook menjelaskan bahwa fakta-fakta di lapangan membuktikan bahwa Amerika Serikat adalah bukan pihak yang bisa memecahkan masalah Palestina.
"Memang, kemerdekaan nasional Palestina tidak dapat dicapai dengan membawa isu Palestina kepada PBB dan menyatakan secara sepihak atau melalui sebuah negara merdeka yang mungkin memperoleh simpati dan pengakuan dari sejumlah negara di dunia ini," tegasnya.

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme